KURSI RODA BUKAN BATAS, TETAPI AWAL DARI PERJALANAN
Dia terlahir sebagai Non Disabilitas. Namanya lily, masa kecilnya seperti anak anak kecil pada umumnya. Bersekolah, bermain, dan tumbuh tanpa pernah benar benar memikirkan bagaimana rasanya hidup dengan keterbatasan fisik. Saat itu dia bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di Magelang, letak sekolahnya berseberangan dengan sekolah luar biasa (SLB). Ia mengira Sekolah ini adalah tempat sekolah bagi anak anak yang memang punya kebutuhan khusus (down syndrome) dan bagi anak anak pengguna kursi roda. Saat istirahat, terkadang dia memperhatikan mereka bermain di sebuah lapangan persis di depan Gedung utama sekolahnya, tertawa bersama dan kejar kejaran seperti tidak ada beban.
Sampai suatu ketika saat Lily duduk di kelas 3 SMA, sepulang bimbingan belajar ia menghindari sebuah mobil didepan yang mengerem mendadak, karena terkejut ia berusaha menghindarinya dan sampailah ia mengalami kecelakaan bermotor. Ia segera dilarikan ke rumah sakit daerah terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Keluarga Lily pun menyusul ke rumah sakit. Kemudian ibunya bertanya “Dok, bagaimana keadaan anak saya?” kemudian dokter menjawab ‘Bu, dari hasil pemeriksaan sementara, ada kemungkinan cedera serius di bagian tulang belakang”.
Karena penanganannya yang sangat lambat, keluarga Lily memutuskan untuk membawanya ke salah satu Rumah Sakit swasta yang ada di dekat sana, sesampai disana, Lily langsung diminta untuk melakukan rontgen. Setelah keluar hasil rontgen dokter menyampaikan jika ia mengalami patah tulang belakang dan harus segera di operasi. Keluarga Lily sangat terkejut saat dokter menyarankan Lily untuk dirujuk ke RSCM di Jakarta dan melakukan operasi tulang belakang disana.
Sesampainya di RSCM, dokter kembali melakukan pemeriksaan lebih detail. Ia didiagnosis mengalami cedera pada tulang belakang, tepatnya di bagian torakal ruas 7 dan 8. Selain itu, setelah dilakukan CT scan,
ditemukan juga retakan pada bagian rahang yang mengharuskan pemasangan plat. Ia harus menjalani operasi besar, pemasangan pen di tulang belakang dan operasi pada rahang. Ibu Lily kembali bertanya kepada dokter “Apa... dia bisa sembuh, Dok?” kemudian dokter berusaha meyakinkan dan menjawab “Kita akan lakukan yang terbaik. Tapi seperti yang saya katakan tadi, dia harus menjalani operasi besar” jawab Dokter dengan hati hati
Dari situlah Lily pertama kali mendengar istilah “paraplegia”, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan atau kehilangan fungsi pada dua anggota gerak, biasanya kaki, akibat cedera tulang belakang. Anehnya, saat itu dokter tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa Lily tidak bisa berjalan lagi. Yang mereka sampaikan hanyalah proses penyembuhan setiap pasien berbeda beda. Ada yang pulih dalam waktu 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, bahkan 5 tahun atau lebih tergantung tingkat keparahan cedera.
Lily berpegang pada harapan itu, Namun waktu terus berjalan. Bulan berganti tahun, hingga akhirnya hampir 10 tahun berlalu, dan kondisi Lily masih belum berubah. Lily masih menggunakan kursi roda. Di masa awal setelah kecelakaan, Lily mengalami fase terberat dalam hidupnya. Lily sempat mengalami masa drop yang amat sangat mendalam. Lily sulit menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah drastis dari yang sebelumnya. Sebelumnya ia masih bisa melakukan hal hal secara mandiri, tiba tiba ia harus bergantung pada orang lain. Rasanya seperti kehilangan Sebagian dari dirinya sendiri.
Lily marah, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Namun, perlahan, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Seseorang yang ia kenal menyarankan agar ia menjalankan rehabilitasi medik di rumah sakit fatmawati, Magelang. Tujuannya bukan hanya untuk pemulihan fisik, tapi juga untuk belajar hidup mandiri sebagai pengguna kursi roda.
Ia pun mulai mengikuti saran itu dan mulai menjalankan rehabilitasi di rumah sakit Fatmawati selama kurang lebih 3 bulan. Di sanalah titik balik dalam hidupnya dimulai, Ia tinggal di sebuah Yayasan yang dihuni oleh para pengguna kursi roda. Disana Ia bertemu banyak orang dengan kondisi yang sama sepertinya, tapi dengan latar belakang yang berbeda beda. Ada yang mengalami kecelakaan, ada yang karena penyakit, ada juga yang bawaan sejak lahir.
Untuk pertama kalinya, Ia merasa tidak sendiri. Ia mulai belajar banyak hal. Dimulai dari hal sederhana, seperti berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, kursi, hingga hal yang kompleks seperti mengelola emosi dan membangun kembali kepercayaan diri. Perlahan, ia mulai menerima dirinya. Ia mulai berdamai dengan keadaan.
Ia mulai akrab dengan istilah “disabilitas”. Dari situ, rasa percaya dirinya mulai tumbuh kembali. Ia mulai berani bermimpi lagi, ia mulai berfikir bahwa hidupnya tidak berhenti hanya karena ia menggunakan kursi roda. Suatu ketika, Ia mendapatkan informasi bahwa terdapat lomba tentang TI tingkat Internasional di Korea Selatan, yaitu Global IT Challenge for Youth with Disabilities.
Tanpa banyak berpikir, ia mulai mencoba untuk mendaftar dalam lomba tersebut. Siapa sangka ia terpilih menjadi salah satu perwakilan dari negara Indonesia. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya terjadi dalam hidupnya saat ini. Sebelum berangkat, mereka mendapatkan pelatihan intensif selama satu minggu di pusat TIK Nasional Kementerian Kominfo. Mereka dilatih oleh instruktur-instruktur yang sangat kompeten di bidangnya.
Saat kompetisi berlangsung, mereka memberikan yang terbaik. Dan hasilnya, mereka berhasil meraih juara 3 untuk kategori E-Design tingkat Asia Pasifik. Rasanya luar biasa menurut Lily. Dari situ, cara pandang Lily berubah, Ia mulai berpikir bahwa menjadi disabilitas bukanlah akhir dari segalanya. Justru mungkin ini adalah jalan terbaik yang tuhan berikan untuknya agar ia bisa mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang tidak akan didapatkan jika hidupnya sama seperti dulu.
Sejak saat itu, ia mulai tertarik dengan dunia IT. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan TIK yang diadakan oleh Pusat TIK Nasional Kominfo. Hingga akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Training Of Trainer (TOT) dalam kegiatan Jambore Nasional Disabilitas. Dari peserta, ia berkembang menjadi instruktur. Dalam hatinya ia berkata “ semoga dengan ini aku bisa memotivasi banyak penyandang disabilitas di dunia ini, agar mereka bisa bangkit dan sadar bahwa semua ini bukanlah penghalang bagi kita untuk bermimpi” liriknya dalam hati.
Ia mulai sering diundang untuk mengisi pelatihan, berbagi ilmu, dan terlibat dalam berbagai kegiatan. Hingga akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Pusat TIK Nasional Kementerian Kominfo sebagai Pegawai pemerintah non-PNS. Ia berkata kepada ibunya, “Bu, aku nggak nyangka bisa ada di titik ini. Dulu aku sempat ragu dengan diriku sendiri, tapi hari ini aku buktiin kalau keterbatasan bukanlah penghalang. Aku bangga bisa menjadi bagian dari pegawai pemerintah, ini adalah pencapaian terbesar dalam hidupku, terimakasih juga atas doa ibu yang tiada hentinya mendoakanku” dengan lirih, ibunya menjawab “ sama sama nak...ini sudah jalannya, semua sudah diatur oleh tuhan. Ibu sangat bangga karena kamu bisa sampai di titik ini, selamat ya nak...”
Sebuah pencapaian yang dulu terasa mustahil dalam hidup Lily. Namun baginya, pencapaian terbesar bukan hanya soal pekerjaan atau prestasi, tapi tentang bagaimana ia bisa bermanfaat bagi orang lain terutama bagi teman teman disabilitas sepertinya. Ia ingin mereka sadar bahwa dengan adanya keterbatasan kita tetap bisa untuk mempunyai mimpi, keterbatasan bukanlah halangan bagi kita. Jadi ia terus memberikan motivasi kepada teman temannya yang disabilitas.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan Nasional, seperti Jambore Disabilitas yang diselenggarakan oleh Bakti Kominfo. Dari sana, ia bertemu banyak teman-teman disabilitas dari seluruh Indonesia, dengan berbagai jenis disabilitas fisik, sensorik, mental, hingga intelektual. Ia semakin sadar bahwa masih banyak tantangan yang mereka hadapi, terutama dalam akses pendidikan, pekerjaan, dan fasilitas umum.
Banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki potensi besar, tapi terhambat oleh lingkungan dan stigma masyarakat. Hal itulah yang akhirnya mendorongnya untuk terus bergerak. Ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari volunteer, konferensi, hingga program Internasional. Dan dari Korea Selatan kemarin, ia belajar banyak tentang sistem pendidikan, dunia kerja, dan bagaimana negara lain memberikan kesempatan yang lebih setara bagi penyandang disabilitas.
Pengalaman itu membuka pikirannya. Hingga akhirnya, ia bersama teman temannya membuka Yayasan RiseAbility Indonesia. Sebuah wadah yang bertujuan untuk memberikan kesempatan, kesetaraan dan akses pendidikan terutama di bidang TIK bagi teman teman penyandang disabilitas. Saat opening Yayasan, ia dan teman temannya memberikan sambutan. Dan mencoba memberikan motivasi kepada mereka penyandang disabilitas sepertinya. Ia berkata ”Aku tahu rasanya, ngerasa dunia tiba-tiba berubah. Tapi
percaya deh, hidup kita nggak berhenti disini. Kita Cuma lagi belajar cara baru buat jalanin semuanya” teman Lily pun ikut menyemangati “Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita punya cerita, perjuangan, dan kekuatan yang nggak semua orang punya. Kursi roda, alat bantu apapun itu bukan tanda kelemahan. Itu justru bukti kalau kita terus berusaha buat tetap maju”.
Kini, ia melihat hidup dari dua sisi yaitu sebagai seorang yang pernah non disabilitas dan sebagai seseorang yang hidup sebagai penyandang disabilitas. Ia tahu perbedaannya, dan karena itu ia ingin terus menjadi bagian dari perubahan. Ia ingin terus mengedukasi masyarakat, menghapus stigma dan membuka lebih banyak kesempatan bagi teman teman penyandang disabilitas
Ia terus percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, selama ada kemauan untuk terus berusaha. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tapi tentang seberapa besar kitab isa memberi manfaat bagi orang lain. Dan ia bersyukur, di balik semua yang terjadi, ia menemukan jalan hidupnya yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Beberapa tahun berlalu, Gedung kecil tempat Yayasan RiseAbility bermula kini tak lagi sunyi. Setiap sudutnya berdenyut dengan aktivitas. Di lantai bawah, sekelompok remaja dengan disabilitas rungu sedang asyik mempelajari bahasa pemrograman dengan instruktur yang menggunakan bahasa isyarat. Sementara itu, di ruang sebelah, Lily yang kini menjadi manajer program sedang memberi pelatihan motivasi bagi orang tua agar tidak lagi menyembunyikan anak-anak mereka dari ramainya dunia.
Tokoh utama kita kini berdiri di balkon, menatap keramaian itu dengan senyum kecil. Ia teringat masa - masanya di Korea Selatan dulu. Mimpi tentang kesetaraan yang ia bawa pulang kini bukan lagi sekedar angan. “Kak ada undangan dari Kementerian Pendidikan,” suara itu memecah lamunan Lily. “mereka ingin membantu merancang kurikulum inklusif untuk sekolah umum secara nasional. Mereka akhirnya sadar, pendidikan inklusi bukan Cuma soal menyediakan fasilitas, tapi juga soal mengubah pola pikir.”
Hatinya berdesir, ini adalah tantangan yang jauh lebih besar dari sekedar mengelola Yayasan. Ini adalah kesempatan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak di pelosok negeri yang merasa ‘dunia tiba-tiba berhenti’ hanya karena keterbatasan fisik. “kita ambil, ya” jawabnya mantap. “Tapi aku ingin para
pengajarnya nanti adalah teman-teman kita sendiri. Biarkan dunia melihat bahwa kita bukan objek belas kasihan, melainkan subjek perubahan.”
Sore itu, saat matahari terbenam membiaskan warna emas di jendela Yayasan, ia menyadari satu hal: hidup memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi hidup selalu memberikan jalan bagi mereka yang memilih untuk tidak berhenti berjalan. Langkahnya mungkin berbeda, tetapi tujuannya tetap sama. Menciptakan dunia di mana setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki hak untuk bermimpi setinggi langit.
Salma Amelia Anggraini - 25010684053