KURSI RODA YANG BERGERAK
Nama gadis itu adalah Arzelyn, dia baru berusia 13 tahun dan sedang duduk di kelas 7 SMP. Dia tinggal di kawasan Dago Pakar, Bandung – tempat yang dikenal dengan kawasan pemukiman eksklusif, jalanan bersih yang diapit pepohonan tinggi, dan suara musik klasik atau jazz yang terdengar dari kafe-kafe eksklusif di sekitarnya.
Sejak kecil, dia menderita kelainan otot pada kaki dan tidak bisa berjalan jauh tanpa kursi roda lipat warna peraknya yang selalu ada disisinya. Kursi roda itu bukanlah kursi roda biasa; ia dibuat khusus dengan bahan yang ringan namun kuat. Kadang-kadang roda depannya macet, dan bagian belakang sedikit miring akibat penggunaan yang terus-menerus. Bagi Arzelyn, kursi rodanya seperti sahabat terbaiknya.
Hal yang aneh dalam hidupnya bukanlah disabilitasnya. Hal yang aneh adalah orang tuanya selalu bersikeras agar dia sekolah di SMP Saint Alexander, sekolah berstandar internasional dengan pemandangan kota yang luar biasa dari puncak bukit.
Namun ada hal lain yang lebih aneh dan luar biasa:
Guru BK, Ibu Alana, suka memberikan tugas yang sedikit aneh, mungkin yang paling aneh di kalangan kalangan elit Bandung.
Pada hari Senin: “Gambarlah versi namamu yang ceria.”
Pada hari Selasa: “Ceritakan tentang suara yang kamu benci tapi juga rindukan.” Pada hari Rabu: “Jika kursi roda bisa berbicara, tuliskan apa yang akan dia keluhkan.”
Pada hari itu, Arzelyn hampir terjatuh dari kursinya karena lereng menuju tempat parkir yang sedikit licin dan ditutupi kabut tipis pagi itu. Dia sedang duduk di ruang BK yang lantainya berlapis marmer, menenangkan napasnya.
Ibu Alana membuka buku catatannya.
“Arzelyn, kamu punya tugas observasi baru.”
“Apa kali ini, Bu?”
“Kamu harus mengamati benda yang paling sering kamu gunakan selama seminggu,” kata Ibu Alana. “Kemudian tentukan apa sifat sebenarnya dari benda itu.”
Arzelyn melihat kursi rodanya. “…Bu, itu hanya kursi roda saja.”
“Kamu lah yang akan menjelaskan apakah itu benar-benar demikian.”
Arzelyn sedikit menggigil. Kadang-kadang dia merasa Ibu Alana bukan hanya seorang konselor – dia seperti orang yang bisa membaca apa yang ada di hati setiap orang.
Arzelyn dengan serius mengamati kursi rodanya. Dia melakukannya di rumah di atas lantai kayu jati, di sekolah di lorong yang luas, bahkan ketika dia pergi ke kawasan perbelanjaan eksklusif di Dago atau Setiabudi yang sering dia kunjungi bersama keluarga.
Awalnya, dia mengira tugas itu hanya untuk bersenang-senang.
Namun kemudian dia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Kursi rodanya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Pertama, ketika dia melewati jalan yang menuju pusat kota yang ramai, kursi rodanya selalu miring ke kiri.
Kedua, jika dia mendorongnya dengan lambat, kursi roda itu akan macet. Tapi jika dia sedikit menariknya atau mendorongnya lebih kuat, ia akan bergulir dengan lancar.
Hal ketiga yang diamati adalah yang paling tidak bisa dijelaskan.
Ketika dia pergi ke kamar mandi sekolah yang memiliki desain modern pada hari sebelumnya, kursi rodanya sedikit bergulir dengan sendirinya.
Abyan, teman sekelasnya yang berasal dari keluarga sama kaya dengan keluarganya dan sedang menunggu di luar kamar mandi, bersumpah bahwa dia tidak menyentuhnya.
“Byan, kamu pasti yang memindahkan kursi kan?”
“Tidak mungkin! Aku bersumpah dengan restoran sushi favorit kita!”
“Kalau begitu kenapa kursiku bisa bergulir ke depan dengan sendirinya?” Abyan hanya mengangkat bahu. “Mungkin kursi roda punya akal sendiri.” Arzelyn hanya bisa menggelengkan kepala.
Namun insiden aneh ini semakin sering terjadi pada Arzelyn. Tadi malam saja, ketika dia sedang tidur di kamarnya yang luas dengan pemandangan pegunungan, kursi rodanya telah bergulir sendiri ke arah tempat tidurnya.
“Bu, kursi rodaku bergeser sendiri tadi malam,” kata Arzelyn kepada ibunya yang sedang mengatur buku besar bisnisnya.
Ibunya hanya mengangkat bahu, masih melihat layar laptopnya: “Mungkin kamu mendorongnya ketika bangun tidur, sayang.”
Arzelyn sangat yakin bahwa dia tidak menyentuh kursi rodanya.
Dia mulai curiga bahwa mungkin saja, tugas yang diberikan oleh Ibu Alana bukanlah tugas sembarangan. Mungkin saja, Ibu Alana tahu sesuatu tentang kursi rodanya.
Dan peristiwa besar terjadi pada hari Kamis.
Selama jam istirahat kedua, siswa SMP Saint Alexander berbaris keluar ke taman sekolah atau kantin yang menyajikan makanan bergizi sesuai standar internasional. Arzelyn memilih tempat di dekat kolam kecil di tengah taman di mana dia terus memandangi kursi rodanya.
“Tolong, gerak sedikit saja.”
Kursi rodanya tidak bergerak sama sekali.
Abyan datang membawa dua gelas jus buah segar dan kue kering buatan sendiri. “Kamu lagi ngomong sama kursi roda.”
“Ya, untuk tugas konseling.”
Abyan hanya terus mengunyah kue dengan diam-diam.
Arzelyn mencoba mendorong kursi rodanya sedikit; ia macet. Dia mendorongnya lebih kuat sedikit; tetap macet. Dia mencoba sedikit menggoyangkan kursi roda –
Dan kursi roda itu melesat ke depan dengan cepat.
“ARZELYNNN!!!” teriak Abyan dengan suara seperti penyanyi suara dalam film.
Kursi roda itu langsung menuju tangga kecil yang mengarah ke lapangan tenis meja yang terawat baik. Arzelyn takut; dia menarik roda kanan dengan kuat sehingga kursi roda itu bergoyang.
Untungnya, ada dua siswa kelas 8 dari keluarga bisnis ternama, yaitu Aleeta dan teman sekelasnya, yang sedang duduk di bangku taman.
Mereka menghentikan kursi roda sebelum ia terbalik.
“Astaga, kamu baik-baik saja?” tanya Aleeta sambil masih memegang tangan Arzelyn. “Ya… aku baik-baik saja… tapi kursi rodaku…”
Arzelyn melihat kursi rodanya dengan mata penuh ketakutan.
Aleeta jongkok untuk melihat kursi rodanya. “Kamu tidak menyadarinya, kan? Ketika kamu tampak sangat tegang, kursi roda itu bergerak dengan sendirinya!”
Abyan menyetujui. “Ya… benar… seolah-olah kursi roda itu tahu perasaanmu!” Arzelyn menarik napas dalam-dalam. Dia merasa gugup.
Arzelyn duduk sendirian di ruang tamu yang luas dengan lantai marmer dan desain klasik. Dia melihat langsung ke arah kursi rodanya.
“Kursi roda… apa kamu hidup?”
Kursi rodanya sedikit bergerak.
Seolah-olah… menjawab.
Mulai hari itu, Arzelyn memperlakukan kursi rodanya seperti sahabat, memberitahukan segala sesuatu padanya, mulai dari masalah pelajaran Bahasa Inggris hingga berbagi rencana keluarga untuk bepergian ke luar negeri, bahkan terkadang meminta pendapatnya.
Namun, kursi rodanya selalu merespons, meskipun tidak dengan kata-kata, melalui gerakan yang entah bagaimana bisa menyampaikan emosi.
Jika Arzelyn merasa gembira → kursi roda akan melompat-lompat.
Jika Arzelyn merasa sedih → sandaran belakang kursi roda akan bergetar. Jika Arzelyn merasa marah → roda kursi roda akan macet.
Suatu malam, Arzelyn mengumpulkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang sudah lama dia takuti tanyakan, jadi dia keluar ke teras kamarnya yang menghadap Gunung Tangkuban Perahu.
“Kursi roda, tahukah kamu bahwa aku berbeda dengan anak-anak lain?”
Roda kursi rodanya sedikit bergulir, kemudian kembali ke posisi semula. Seolah berkata, “Beda dengan orang lain bukanlah masalah sama sekali.” Arzelyn hampir menangis.
Hari Senin tiba, dan dalam presentasi tugas konseling di ruang kelas yang dilengkapi proyektor canggih, Ibu Alana memanggil Arzelyn ke depan kelas.
Arzelyn menarik napas dalam-dalam.
“Jadi… setelah mengamati kursi rodaku selama seminggu, aku sampai pada satu kesimpulan,” katanya sambil melihat teman-temannya yang duduk rapi.
Kelas mulai berbisik-bisik.
“Aku dulu mengira kursi rodaku hanya benda mati. Tapi bukan itu sebenarnya. Kursi roda ini bisa merespons perasaanku. Ketika aku bingung, ia bergerak sendiri, dan ketika aku tenang, ia tetap diam.”
Ibu Alana tersenyum seolah-olah sudah tahu semuanya dari awal.
“Maka apa kesimpulanmu, Arzelyn?”
Arzelyn melihat kursi rodanya.
Bahunya yang tadinya kaku menjadi rileks.
“Aku belajar bahwa kursi roda ini bukan hanya sebuah benda. Atau… mungkin aku yang selama ini tidak peka terhadap diriku sendiri.”
Kelas menjadi benar-benar sunyi.
Kemudian tiba-tiba seperti kejutan yang tidak terduga
kursi rodanya bergulir maju sendiri setengah langkah.
Kelas menjadi penuh kegembiraan. Ada orang berteriak, yang lain langsung mengeluarkan ponsel untuk merekam. Beberapa bahkan berdiri dari tempat duduknya karena terkejut.
Ibu Alana bagaimanapun tetap tenang.
“Hidup itu unik, bukan? Kadang-kadang, apa yang kita sebut ‘batasan’ bisa membawa kita lebih jauh dari yang kita kira, bahkan lebih jauh dari mereka yang memiliki kondisi fisik yang sempurna.”
Arzelyn merasa akhirnya dia melihat apa adanya, bukan karena keluarganya atau kondisi fisiknya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya.
Setelah insiden “kursi roda hidup” menjadi pembicaraan di kalangan elit Bandung, SMP Saint Alexander tiba-tiba mendapatkan perhatian lebih banyak. Kepala sekolah segera memerintahkan agar semua jalur akses di dalam kompleks sekolah diperbaiki, lebih banyak landai kursi roda yang elegan dibangun, bahkan lantai yang lebih halus dan nyaman dipasang.
Bukan karena mereka tiba-tiba mulai peduli, tetapi karena mereka ingin menjaga reputasi sekolah yang bergengsi.
Arzelyn tidak keberatan. Yang penting, hidupnya menjadi sedikit lebih mudah. Ibu Alana memanggilnya pada suatu sore di ruang Bk yang telah diatur ulang. “Arzelyn, apakah kamu sudah menemukan sifat sebenarnya dari kursi roda?” Arzelyn tersenyum. “Ya, Bu.”
“Apa itu?”
“Bukan kursi roda yang hidup. Aku lah yang hidup.”
Ibu Alana tertawa lembut. “Bagus. Tapi jika kursi roda mu benar-benar hidup, tolong jangan biarkan dia bergabung dengan klub bulu tangkis aku khawatir dia tidak akan cocok dengan lapangan.”
Arzelyn tertawa terbahak-bahak.
Saat dia pulang ke rumah melalui jalanan yang diapit pepohonan di kawasan elit Bandung, suara berdecit dari kursi rodanya masih memenuhi udara, tap sekarang, suaranya hangat, seperti sahabat yang selalu ada disisinya, yang sedang berbisik lembut.
Waktu dia tiba di rumah, Arzelyn berdiri diam di depan pintu masuk yang megah, mengetuk sandaran belakang kursi rodanya.
“Terima kasih,” katanya.
“Kamu mengajarkanku untuk menjadi pemberani.”
Kursi rodanya sedikit bergulir.
Mungkin karena hembusan angin pegunungan yang lembut.
Mungkin karena lantainya sedikit tidak rata.
Atau mungkin… karena kursi roda itu benar-benar mengerti.
Arzelyn tidak pernah mencari jawaban.
Yang dia tahu adalah dia menyadari bahwa disabilitasnya bukanlah halangan, melainkan cara bagi dia untuk belajar bagaimana bersabar, cara bagi dia untuk menemukan hal-hal yang tidak pernah dia kira bisa ditemukan.
Dan mulai hari itu, kursi roda tidak lagi hanya menjadi alat bagi Arzelyn, melainkan bagian dari perjalanannya.
Sheryl Putri Yusinta - 25010684058