LANGKAH YANG TAK TERLIHAT
Di sebuah desa kecil yang tenang, dikelilingi hamparan sawah hijau yang bergoyang tertiup angin dan jalanan berbatu yang berdebu saat kemarau, hiduplah seorang anak bernama Budi. Usianya empat belas tahun, tubuhnya kurus namun lincah, dan wajahnya selalu menyimpan ekspresi jahil. Semua orang di desa mengenalnya, Bukan karena prestasi, melainkan karena tingkahnya yang tak pernah bisa diam. Ia bukan anak jahat ia tidak pernah berniat menyakiti siapapun tetapi ia terlalu senang mengusili orang lain.
Di sekolah, hampir setiap hari ada saja ulahnya. Kadang ia menirukan suara ayam saat guru menjelaskan, membuat seisi kelas tertawa. Kadang ia diam-diam mengambil penghapus teman lalu berpura-pura membantu mencarinya. Bahkan pernah ia mencoret sepeda Pak RT dengan spidol hanya untuk melihat reaksi orang-orang. “Budi!” tegur Bu Rina, gurunya, suatu hari. “Kamu ini kapan bisa serius?”Seluruh kelas tertawa kecil. Budi hanya nyengir lebar. Di rumah, ibunya sering menghela nafas panjang. Ibunya juga sering menasehati budi dan juga sering mengingatkan “Budi, kamu harus belajar menghargai orang lain. Tidak semua orang suka dipermainkan,” katanya suatu malam.“Ibu ini aku cuma bercanda,” jawab Budi santai sambil merebahkan diri. Ia tidak sadar bahwa candaan nya sering membuat orang lain tidak nyaman.
Suatu sore, setelah hujan turun cukup deras, jalan desa menjadi licin. Genangan air kecil terbentuk di sana-sini. Langit berwarna abu-abu gelap, dan udara terasa dingin.Budi baru saja pulang dari lapangan setelah bermain bola bersama teman-temannya. Bajunya kotor oleh lumpur, tetapi wajahnya tetap cerah. Ia masih menertawakan kejailannya pada Jono ia menyembunyikan sandal Jono di balik semak-semak. Dan sampailah di ujung jalan besar, dekat lokasi pembangunan desa, sebuah truk molen terparkir. Mesin besar itu tampak diam, tetapi sisa-sisa semen mengeras di sekelilingnya. Budi melangkah mendekat tanpa rasa khawatir sedikit pun. Ia tidak tahu bahwa beberapa langkah ke depan, hidupnya akan berubah selamanya.
“Bud, jangan lewat sana! Licin!” teriak Jono dari belakang. Namun Budi malah tertawa sambil berjalan mundur “Tenang saja! Aku ini atletik!” lalu Ia melangkah cepat tanpa melihat ke depan. Kakinya menginjak lumpur licin. Lalu Dalam sekejap, tubuhnya kehilangan keseimbangan.“Eh—!” dan akhirnya sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi Tubuhnya jatuh ke arah tanah miring yang mengarah ke area proyek. Ia berusaha bangkit, tetapi kakinya justru semakin tenggelam dalam lumpur. Saat itulah mesin truk molen tiba-tiba kembali berputar.
Suara mesin yang berat dan berdecit memecah keheningan sore.“Berhenti! Berhenti!” teriak salah satu pekerja.Namun semuanya terlambat. Budi merasakan tarikan kuat pada kakinya. Ia lalu berteriak keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya seperti disambar listrik yang tak kunjung berhenti. “Budiii!!! Budiii!!!” suara Jono pecah, penuh panik. Para pekerja berlari dan menghentikan mesin. Butuh beberapa detik untuk menghentikannya tetapi
yang terasa seperti sangat lama sebelum akhirnya mesin pun berhenti.
Dan berkumpul lah semua pekerja tersebut untuk menyelamatkan Budi yang tersangkut di alat berat proyek tersebut, Ketika mereka berhasil menarik Budi keluar, budi merasa tubuhnya lemas, Nafasnya tersengal. Ia melihat ke bawah ke arah kakinya atau tempat yang seharusnya menjadi kakinya, Matanya membesar. Dunia seakan berhenti. “Tidak… tidak…” bisiknya. Saat ia mencoba menopang tubuhnya dengan tangan, ia kehilangan keseimbangan dan kehilangan kesadarannya. Ujung roda alat berat yang masih bergerak menyentaknya, menyebabkan cedera serius pada lengan kirinya. “Cepat panggil ambulance!” “Cepat panggil ambulance!” “Cepat panggil ambulance!” teriak seorang pekerja. Lalu pekerja lainnya pun dengan cepat mengambil handphone dan menelpon ambulance dan menghubungi keluarga Budi.
Dalam hitungan menit, suara sirine meraung memecah desa. Di dalam ambulans, Budi mulai sadar dan dia menangis terus menerus, air matanya terus mengalir tanpa henti. Bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena ada rasa ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah tibanya ambulance di rumah sakit Budi langsung dibawa oleh perawat ke ruang UGD, setelah itu Operasi panjang berlangsung lebih dari lima jam. Keluarga Budi menunggu dengan gelisah, apalagi ibu Budi beliau terus menerus menangis dan memikirkan bagaimana Budi di dalam dan bagaimana kabar budi apakah bisa diselamatkan atau tidak bisa. Waktu sudah hampir 5 jam dokter pun belum juga keluar Bersama perawat untuk memberi kepastian kabar budi.
Setelah menunggu lama akhirnya dokter pun keluar, tetapi waktu dokter keluar wajahnya tidak menunjukkan kabar baik. Ibu budi dan keluarga juga semakin risau karena melihat dokter keluar dengan menunjukan ekspresi yang kurang bagus, lalu dokter langsung menghampiri ibu budi, dan keluarga. Lalu dokter menyampaikan “Kami mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan kaki kanan Budi dan sebagian lengan kirinya.”. disitu Ibunya langsung menutup mulut, menahan tangis, dan juga sedikit kehilangan keseimbangannya dan mulai kabur penglihatannya saking syok nya melihat keadaan anaknya lalu Ayah Budi
memeluknya erat untuk menenangkan pikiran istrinya agar tidak panik melihat kondisi anaknya yang seperti itu karena hal ini juga karena budi yang selalu penasaran akan hal apapun dan tidak mau mendengarkan omongan orang lain bahwa itu berbahaya ataupun tidak.
Malam pun tiba tetapi Budi belum juga sadar dari obat bius yang diberikan oleh dokter waktu penanganan di UGD. Setelah lama menunggu akhirnya dia sadar dan Ketika Budi sadar, ia merasakan tubuhnya ringan di bagian tertentu ringan yang menakutkan. “Bu… kakiku…?” suara Budi bergetar, ibunya tersenyum dan mencoba menenangkan Budi, namun matanya sembab. “Kakimu sudah nggak ada, Nak” dengan nada bergetar dan juga khawatir ibu budi menjelaskan keadaan budi. “Tapi kamu harus tetap bersyukur nak kamu selamat nak dan
Kamu… kamu masih diizinkan sama allah untuk hidup” ujar ibu budi . ”Budi menatap kosong ke langit-langit kamar. Detak jantungnya terdengar jelas di telinganya. Rasanya seperti dunia runtuh.
Hari demi hari, perawat datang memeriksanya. Teman-temannya hadir menjenguknya dengan membawa bunga, makanan, gambar-gambar lucu. Dan mencoba menghiburnya dan memberi semangat agar dia lebih bisa menerima keadaannya. Tapi Budi selalu memalingkan wajah ke tembok lalu budi berkata “ Aku nggak mau lihat” “Aku bukan budi lagi” “Aku sudah
nggak punya kaki dan tangan lagi” Ia merasa keberaniannya hilang. Rasa percaya dirinya tergerus. Anak yang dulu lincah, nakal, dan penuh tawa itu menghilang. Hingga suatu hari, seseorang mengetuk pintu. Seorang laki-laki muda dengan langkah sedikit tertatih masuk. Ia membawa senyum hangat, dan ia menyapa “Halo, Bud. Namaku Radit,” katanya. “Aku dengar kamu lagi sedih. Aku juga pernah kok kayak kamu.” Budi menatapnya. Radit mengangkat ujung lengan bajunya. Tampak prostetik lengan yang kokoh dan elegan. “dulu aku juga pernah kecelakaan,” kata radit. “aku pikir hidupku sudah selesai. Tetapi ternyata aku Cuma perlu belajar hidup dengan cara baru”. Untuk pertama kalinya, mata Budi menatap seseorang dalam dalam sejak kecelakaan itu.
Setiap minggu, Radit datang ke rumah sakit. Ia duduk di samping tempat tidur Budi dan berbagi cerita tentang hari-hari terberatnya, tentang bagaimana ia kehilangan pekerjaan, rasa percaya diri, dan bagaimana ia bangkit perlahan-lahan. “Kamu tahu, Bud? Jatuh itu wajar. Nangis juga nggak apa-apa,” ujar Radit. “Aku capek, Mas”. Lalu suatu hari Budi mengaku.
“Kenapa harus aku? Aku kan cuma main aku kan juga cuma bercanda”, “Kadang hidup juga nggak minta izin ketika mau berubah” kata radit. “Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana kita menjalaninya.” Tetapi tidak mudah, budi juga sering dan hampir berkali kali jatuh, Ia marah,
berteriak, bahkan menolak makan. Namun, setiap kali ia menyerah Radit selalu ada mendukung dan juga mencoba memberi wawasan dan pengalaman yang pernah ia alami disaat kondisi yang seperti Budi. “Coba sekali lagi. Pelan-pelan. Tarik napas. Kamu pasti bisa.” Itu Adalah kata penenang dan penyemangat untuk budi yang ingin menyerah.
Perlahan-lahan pandangan budi terhadap dunia mulai berubah, dia mulai memperhatikan perawat bekerja tanpa Lelah, dan banyak orang-orang diluaran sana, dan ia juga melihat bagaimana kedua orang tua nya menemaninya setiap hari, meski Lelah. Ia juga menyadari betapa banyak orang-orang yang menyayanginya. Dia juga mulai menyesali semua keisengannya dulu dan mulai berfikir “kenapa aku dulu suka ganggu orang ya” dan “kenapa aku nggak mikirin perasaan mereka juga ya”. Ia mulai memperhatikan orang lain, Ia mulai mengingat teman-teman yang pernah ia sakiti, Ia mulai merasa bersalah. Hari Kembali
masuk ke sekolah pun tiba, suasana terasa berbeda. Teman-temannya tidak lagi tertawa karena ulahnya, tetapi semua tersenyum dengan hangat menyambut kedatangan budi dan merasa prihatin atas keadaannya. Semua temannya tetap menerima bagaimana keadaannya dan semua teman-temannya juga menghargai atas kondisinya saat ini. “Bud kamu hebat meskipun kondisimu berbeda kamu tetap semangat untuk belajar” kata Jono teman sekelas Budi. Budi tersenyum kecil. Bu Fina selaku guru kelas di sekolahan Budi sangat senang melihat teman
teman Budi yang sangat mengerti kondisi budi saat ini dan juga saling menolong jika Budi merasa kesulitan.
Waktu terus berjalan, Budi menemukan hal-hal baru yang bisa ia lakukan Ia belajar menggambar komik dan melukis dengan sungguh-sungguh dan menggunakan satu tangannya dengan cara efisien. Ia menjadi anggota klub desain grafis dan membuat poster keselamatan bagi sekolahnya.bahkan memenangkan lomba desain poster tingkat sekolah. Budi juga belajar mengetik cepat. Ia mulai belajar mengetik di laptop, membuat cerita, ia juga sering berbagi cerita kepada adik kelas tentang pentingnya berhati-hati. Budi tidak lagi sama seperti dulu. Kadang ia masih merasa sedih. Kadang ia iri melihat teman-temannya berlari bermain bola, bermain kejar-kejaran dan bermain petak umpet. Tapi ia tidak lagi tenggelam dalam perasaan itu.karena dia mulai menerima keadaan karena dia termotivasi atas wawasan yang diberi mas Radit dan juga pengalaman hidup yang diberikan olehnya. Ketika perasaan itu datang, ia selalu mengingat kata-kata Radit “Jalanmu mungkin berbeda, Bud tapi itu tetap jalan yang bisa kamu pilih untuk melangkah”.
Suatu sore, ia berdiri di depan rumahnya. Dengan kaki prostetik, ia melangkah perlahan… satu langkah… dua langkah… tidak sempurna, tidak cepat, tetapi penuh dengan makna. Dan dia juga menatap lengan prostetik yang membantunya menggenggam pensil khusus untuk membantu berdiri, Lalu ia masuk dan menatap dirinya di cermin, dan berkata aku ini bukan lagi Budi yang dulu, dan Budi yang sekarang adalah Budi yang baru lebih kuat, lebih matang, dan lebih hebat. Yang dulunya Budi yang selalu jail Bersama teman-teman rumah dan sekolah, Budi yang selalu bermain kesana kemari, yang dulunya Budi yang selalu nakal di desa, tidak nurut sama omongan orang tua dan tetangga, sekarang menjadi Budi yang berbeda. Sekarang aku menjadi Budi yang penurut, berprestasi, selalu dirumah, bermain di waktu tertentu, selalu belajar hal baru yang bisa aku lakukan diwaktu yang kosong, sekarang aku juga tidak selalu menuntut waktuku dengan bermain tetapi belajar juga.
Pagi yang cerah, ia keluar dari rumah tanpa bantuan siapa pun. Ia melihat perkampungan melihat awan yang cerah, melihat matahari yang mulai muncul, dan menghirup udara yang segar, dan melihat pohon-pohon yang rindang. Ia melangkah dengan penuh keyakinan, Angin berhembus lembut Matahari bersinar hangat. dan Budi bergumam pelan “Aku masih bisa berjalan dan aku juga bisa melihat dunia Dan sekarang aku tahu ke mana aku harus melangkah” . Terimakasih tuhan aku masih diberi kesempatan untuk hidup, melihat dunia, menghirup udara segar, dan juga bisa melihat orang tua dan teman-teman yang aku sayang.
by : RAHMA FITRIANA - 049