LANGKAH YANG TERTINGGAL, MIMPI YANG TETAP BERJALAN
Pagi itu, matahari muncul perlahan, menyinari sebuah rumah kecil di ujung kampung. Di dalam rumah itu, Seorang anak bernama Arga duduk di tepi ranjangnya.
Tangannya memegang sebuah tongkat kayu yang sudah menemaninya sejak kecil. Tongkat itu bukan sekadar alat bantu, tetapi bagian dari hidupnya.
Sejak lahir, Arga memang memiliki dua kaki seperti orang lain, tetapi ia memiliki keterbatasan pada kakinya. Ia tidak bisa berjalan normal seperti anak-anak lain.
Setiap langkahnya membutuhkan usaha lebih, tenaga lebih, dan kesabaran yang tidak sedikit. Namun, yang paling berat bukanlah rasa lelah itu melainkan tatapan orang-orang.
Hari itu adalah hari pertama Arga masuk sekolah baru setelah pindah rumah. Ibunya berdiri di dekat pintu, memperhatikan Arga dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Arga sudah siap?” tanya ibunya lembut.
Arga mengangguk pelan. “Siap, bu.”
Meskipun suaranya terdengar yakin, di dalam hatinya ada rasa takut. Takut tidak diterima, takut diejek, takut dianggap berbeda.
Perjalanan ke sekolah terasa panjang. Setiap langkah yang ia ambil seperti mengingatkannya bahwa ia tidak sama dengan yang lainnya. Anak-anak seusianya berlari melewatinya, tertawa tanpa beban. Arga hanya bisa melihat, sambil terus berjalan perlahan.
Sesampainya di sekolah, suasana ramai langsung menyambutnya. Namun, ketika ia masuk ke kelas, keramaian itu berubah menjadi keheningan. Semua mata tertuju pada Arga.
Bisik-bisik pun mulai terdengar.
“Ih, jalannya aneh banget ya…”
“Kasihan banget sih…”
Arga menunduk. Ia memilih duduk di bangku depan, berusaha mengabaikan semua suara itu.
Hari itu dimulai dengan perkenalan. Ketika giliran Arga tiba, ia berdiri perlahan dan berjalan ke depan kelas.
“Halo semuanya, perkenalkan nama saya Arga… ee.. hobi saya menggambar…” ucapnya pelan.
Ia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi suaranya terasa tertahan seolah pita suaranya akan menghilang.
Hari pertama itu berakhir tanpa hal istimewa. Tidak ada teman baru, tidak ada percakapan hangat. Hanya kelelahan dan kesunyian yang ia bawa pulang.
Namun di dalam hatinya, terdapat satu harapan kecil semoga besok akan berbeda.
Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Setiap pagi, Arga tetap berangkat ke sekolah dengan tongkat di tangannya, melangkah perlahan menyusuri jalan yang sama.
Arga mulai hafal setiap sudut jalan itu batu kecil yang sering membuat langkahnya terganggu, lubang di pinggir jalan yang harus dihindari, hingga pohon besar tempat anak-anak biasa berkumpul sebelum masuk sekolah.
Di dalam kelas, Arga selalu duduk di bangku yang sama. Ia memperhatikan guru dengan sungguh-sungguh, mencatat pelajaran dengan rapi, dan berusaha memahami semua yang diajarkan.
Tapi, meskipun ia hadir, hatinya sering terasa sepi. Ia seperti berada di tengah keramaian, tetapi tetap sendirian.
Ia jarang berbicara. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena tidak tahu bagaimana memulainya. Setiap kali Arga ingin menyapa seseorang, kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokannya.
Saat jam istirahat tiba, suasana kelas berubah menjadi riuh. Anak-anak berlarian keluar, saling berbicara, dan tertawa lepas.
Arga biasanya menunggu sampai kelas agak sepi sebelum berdiri dan berjalan keluar.
Setelah kelas agak sepi Arga pun mulai keluar dan tujuannya selalu sama yaitu ke bangku taman di sudut halaman sekolah.
Dari tempat itu, ia bisa melihat semuanya. Anak-anak bermain bola dengan penuh semangat, beberapa bermain kejar-kejaran, sementara yang lain duduk berkelompok sambil bercanda. Tawa mereka terdengar begitu keras dan bebas.
Arga hanya duduk diam, memegang tongkatnya, sesekali menggambar di buku kecil yang selalu ia bawa.
Duduk dalam diam, ia sering bertanya dalam hati, “Bagaimana rasanya bisa berlari tanpa berpikir? Bagaimana rasanya tidak diperhatikan karena berbeda?”
Suatu hari, seperti biasanya, Arga duduk di bangku taman. Tiba-tiba, sebuah bola menggelinding pelan ke arahnya. Bola itu berhenti tepat di dekat kakinya. Arga menatap bola itu cukup lama. Ia bisa mendengar suara anak-anak yang memanggil dari kejauhan.
“Eh kamu, lempar kesini dong bolanya!” Suara itu terdengar biasa saja, tetapi bagi Arga, itu terasa seperti sebuah ajakan yang langka.
Dengan perlahan, ia mengambil bola itu.
Tangannya sedikit gemetar, bukan karena berat, tetapi karena ragu. Ia takut gagal, takut diejek jika lemparannya tidak bagus. Namun akhirnya, ia tetap mencoba.
Ia mengayunkan tangannya dan melempar bola itu dengan sekuat tenaga. Bola itu meluncur di udara, tidak terlalu tinggi, sedikit melenceng, tetapi tetap sampai.
Seorang anak menangkapnya, Dito. “Makasih,” ucap Dito singkat, lalu kembali bermain seolah tidak terjadi apa-apa.
Arga terdiam sebentar. Meskipun hanya satu kata, hatinya jadi merasa hangat. Untuk sesaat, ia merasa seperti ikut menjadi bagian dari mereka. Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama.
Suatu siang, saat Arga berjalan menuju kelas setelah istirahat, langkahnya yang pelan membuatnya tertinggal dari anak-anak lain. Saat itulah ia mendengar suara dari belakang.
“Dia ngapain sih sekolah di sini?”
“Iya, kan nggak bisa ikut main juga…”
“Pasti cuma bikin repot.” Langkah Arga langsung berhenti.
Tangannya mencengkeram tongkatnya lebih erat. Dadanya sesak, dan untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia juga punya hak untuk berada di sana. Namun keberanian itu tidak datang.
Akhirnya, Arga hanya dia dan melanjutkan langkahnya, pura-pura tidak mendengar. Tetapi kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Hari itu terasa sangat panjang. Pelajaran yang biasanya bisa ia pahami dengan mudah, kini terasa sulit. Pikirannya terus kembali pada suara-suara itu.
Saat pulang, langkah Arga terasa lebih berat dari biasanya.
Sesampainya dirumah, ia langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Ibunya yang melihat itu langsung merasa ada yang tidak beres.
“Arga?” panggil ibunya pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Ibunya masuk ke kamar dan melihat Arga duduk di tepi ranjang, menunduk.
“Kenapa Nak, mau cerita ke ibu?” tanya ibunya lembut. Arga terdiam lama. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahannya.
“Bu…” ucap Arga pelan, “kalau aku beda… apa aku tetap bisa punya teman?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyakitkan. Ibunya mendekat dan duduk di sampingnya. Ia mengusap kepala Arga dengan lembut.
“Arga, beda itu bukan berarti kamu sendirian. Kadang, orang lain hanya butuh waktu untuk mengerti.” Arga menatap ibunya.
“Kamu hanya belum menemukan orang yang benar-benar melihat kamu aapa adanya, bukan melihat kekuranganmu.”
Air mata Arga akhirnya jatuh. Namun pelukan ibunya membuatnya merasa sedikit lebih kuat. Malam itu, Arga duduk di meja kecilnya. Ia mengambil pensil dan mulai menggambar.
Di atas kertas, ia menggambar seorang anak yang berlari di padang rumput luas. Anak itu tersenyum lebar, tanpa tongkat, tanpa keterbatasan.
Itu adalah dirinya versi yang ia impikan.
Keesokan harinya, Arga kembali ke sekolah seperti biasa. Namun kali ini, ada sedikit perasaan berbeda dalam dirinya.
Ia masih takut, masih ragu, tetapi ada juga harapan kecil yang ia bawa.
Saat jam istirahat, ia kembali duduk di bangku yang berada di sudut lapangan. Ia membuka buku gambarnya dan mulai melanjutkan gambar yang semalam ia buat.
Ia tenggelam dalam dunianya sendiri, sampai tiba-tiba sebuah suara pun memanggilnya.
“Kamu yang kemarin lempar bola ya?”Arga mendongak. Di depannya berdiri Dito. Arga mengangguk pelan.
“Lumayan juga lemparannya,” kata Dito sambil tersenyum. Arga sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan diajak bicara lagi. “Kamu lagi ngapain?” tanya Dito.
“Gambar…” jawab Arga.
“Boleh lihat?”
Arga ragu sejenak. Ia terbiasa menyimpan gambarnya untuk dirinya sendiri. Namun akhirnya, ia menyerahkan buku itu. Dito melihat dengan serius. Matanya membesar.
“Wah… ini bagus banget!”
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus merespon apa.
“Serius, aku nggak bohong. Kamu jago banget,” lanjut Dito.
Untuk pertama kalinya, Arga merasa dihargai karena sesuatu yang ia miliki, bukan dikasihani karena kekurangannya.
Sejak hari itu, Dito mulai sering duduk bersama Arga. Mereka berbicara tentang banyak hal tentang pelajaran, tentang hobi, bahkan tentang hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah Arga ceritakan kepada siapapun.
Perlahan, beberapa anak lain mulai mendekat. Awalnya hanya melihat-lihat gambar Arga, lalu mulai ikut berbicara. “Bisa ajarin gambar nggak?”
“Keren banget ini…”
Tanpa disadari, Arga mulai memiliki teman.
Ia mulai merasa nyaman. Ia mulai berani tersenyum, bahkan tertawa. Hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil, kini perlahan menjadi nyata.
Namun, di balik semua itu, Arga masih menyimpan rasa takut. Ia takut semua ini hanya sementara. Ia takut suatu saat, orang-orang akan kembali menjauh.
Suatu hari, saat mereka duduk bersama, Dito berkata, “Ga, kamu harus lebih percaya diri.” Arga menatapnya. “Kenapa?”
“Karena kamu punya sesuatu yang nggak semua orang punya.”
“Apa?”
Dito tersenyum.
“Keberanian buat terus jalan, walaupun susah.”
Arga terdiam. Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa dalam.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk melihat kekurangannya, sampai lupa bahwa dirinya sudah berjuang sejauh ini. Dan mungkin… itu juga sebuah kekuatan.
Hingga suatu hari, Bu Rina mengumumkan lomba menggambar dengan tema ‘Impian’. Dito langsung menyemangati Arga untuk ikut. Awalnya Arga ragu, tetapi akhirnya ia mau mencoba.
Saat lomba dimulai, Arga menggambar seorang anak yang berlari bebas di padang rumput, tanpa tongkat. Gambar itu adalah gambar yang ia gambar di kamar waktu itu, yaitu gambar tentang impiannya sendiri.
Meski sempat mendengar ejekan, Arga memilih tetap percaya diri. Ia tahu sudah melakukan yang terbaik.
Beberapa hari kemudian, hasil lomba diumumkan.
“Juara pertama… Arga!” Arga terkejut. Ia maju ke depan dengan langkah pelan, tetapi penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Sejak saat itu, banyak hal berubah.
Teman-teman mulai menghargai Arga. Ia pun menjadi lebih percaya diri dan berani bermimpi.
Saat ditanya Bu Rina tentang impiannya, Arga menjawab, “Aku ingin jadi pelukis, agar aku bisa bercerita lewat gambar.”
Kini, meskipun masih berjalan dengan tongkat, Arga tidak merasa tertinggal.
Ia percaya bahwa setiap orang punya jalan masing-masing. Dan selama ia terus melangkah, mimpinya akan tetap berjalan.
Karena sekarang, Arga tidak lagi sendirian.
FUFA HANNA NUR MAULIDINA - 25010684152