NADA YANG SELALU ADA
Di sudut ruang tamu, sebuah piano tua berdiri dengan tenang, permukaannya tampak sedikit berdebu, seolah sudah lama tidak disentuh. Dahulu, piano itu menjadi pusat kehidupan di rumah tersebut. Setiap pagi dan sore, alunan musik yang indah selalu memenuhi ruangan. Namun sekarang, suasana itu telah berubah. Dihadapannya. Duduk seorang gadis bernama Asya. Ia menatap tuts-tuts piano itu tanpa ekspresi. Tangan Asya berada di atas pianonya, namun tangan asya tidak bergerak.
Dahulu, Asya merupakan seorang gadis pianis muda yang penuh semangat. Asya sering tampil di acara sekolah, bahkan Asya pernah meraih juara dalam lomba musik tingkat kota. Banyak yang mengenal Asya sebagai gadis berbakat dengan masa depan cerah di dunia musik. Namun, semua itu berubah hanya dalam satu malam. Kecelakaan yang terjadi beberapa bulan yang lalu tidak hanya mengubah jalan hidup Asaya, tetapi juga merenggut hal paling berharga yang Asya miliki, ya Asya mengalami gangguan pada pendengarannya. Sejak kejadian pada malam itu, dunia Asya dipenuhi dengan keheningan. Dan suara piano tersebut tidak lagi terdengar seperti dahulu.
Hari-hari Asya terasa berjalan begitu lambat. Setiap pagi, Asya terbangun tanpa rasa semangat seperti sebelumnya. Tidak ada lagi bunyi alarm yang membangunkannya, dan tidak ada lagi suara kicauan burung yang dulu sering terdengar dari jendela kamarnya, kini terasa hampa. Kini, Asya hanya bisa mengandalkan getaran halus dari ponselnya atau sentuhan lembut dari bundanya untuk mengetahui waktu. Saat berada di meja makan, suasa selalu dipenuhi keheningan, bundanya berusaha mengajak Asya untuk berkomunikasi melalui tulisan atau gerakan, tetapi Asya hanya merespons seperlunya.
Di dalam hatinya, Asya belum sepenuhnya dapat menerima keadaan yang sudah terjadi. Baginya, kehilangan pendengaran bukan sekedar kehilangan suara saja, melainkan kehilangan Sebagian dari kehidupannya. Perlahan, Asya mulai menjauh dari hal-hal yang dulu ia cintai. Piano di ruang tamu yang dulunya sering dimainkan olehnya kini hanya menjadi benda tak
bernyawa yang mengingatkannya pada masa lalu. Setiap kali Asya melewati letak piano tersebut ia selalu menundukkan kepalanya. Asya belum siap menghadapi kenangan indah yang tersimpan didalamnya.
Perubahan itu tidak hanya terasa di rumah saja, tetapi juga terasa ketika Asya kembali ke sekolah. Hari pertama Asya kembali ke sekolah terasa begitu sangat begitu berat. Ia melangkah perlahan melewati gerbang sekolah, Asya berusaha menenangkan perasaan, Lingkungan sekolah masih tampak seperti yang dulu, namun yang Asya rasakan sangat berbeda.
Di dalam kelas, Asya memilih duduk di bangku bagian paling depan. Bukan karena ingin lebih fokus, melainkan agar ia dapat memahami penjelasan guru melalui gerakan dari bibir. Meski begitu, menurut Asya semuanya tetap terasa sulit. Saat pembelajaran dikelas dimulai Guru menjelaskan pelajaran dengan penuh semangat, namun Asya hanya mampu menangkap Sebagian kecil dari apa yang telah disampaikan oleh guru tersebut. Asya harus berusaha keras membaca gerakan bibir, dan sering kali Asya tertinggal dari teman-temannya.
Saat jam istirahat berbunyi, Di sekeliling Asya sangat ramai. Teman-temannya berbincang bincang serta tertawa keras. Namun bagi Asya, semua itu hanya tampak sebagai gerakan tanpa suara. Beberapa teman mencoba menyapanya, tapi sapaan tersebut terasa kaku. Karen tidak semua orang dapat memahami cara berkomunikasi dengannya. Perlahan, Asya mulai menjauh dari teman-temannya. Ia lebih memilih untuk duduk sendiri di taman sekolah. Ia membuka buku nya, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus pada buku tersebut. Ia merasa berada di Tengah keramaian, namun tetap merasa kesepian yang mendalam.
Seiring berjalannya waktu, Asya mulai merasakan adanya perubahan besar dalam dirinya. Ia tidak hanya kehilangan kemampuan dalam mendengar, tetapi juga perlahan kehilangan rasa percaya diri yang dulu pernah ia miliki. Hal-hal sederhana yang sebelumnya terasa mudah, kini menjadi terasa sulit. Asya mulai ragu untuk memulai berinteraksi dengan orang lain. Ada rasa takut yang tidak dapat memahami ucapan, takut memberikan respon yang salah, dan takut membuat orang lain merasa canggung ketika ingin berbicara dengannya. Perasan-perasaan itu perlahan tumbuh dan menjadi beban yang semakin berat.
Di dalam kelas, Asya lebih sering menundukkan kepalanya. Ia menghindari bertatapan dengan teman-temannya. Bukan karena tidak ingin berbaur, melainkan ia tidak tahu bagaimana harus memulai komunikasi. Ia merasa seolah berada di dunia yang berbeda. Suatu hari, Pelajaran musik kembali berlangsung. Dahulu, Pelajaran ini adalah Pelajaran favorit baginya. Namun kini, Asya hanya duduk diam di kursi tanpa banyak bergerak. Guru sedang menjelaskan
tentang nada dan irama, sementara siswa lain mencoba memainkan berbagai alat musik. Asya hanya memandangi piano yang berada di sudut ruangan. Jarak antar Asya dan piano itu terasa sangat jauh. Bukan karena letaknya, melainkan karena perasaan yang ada dalam dirinya. Asya mencoba untuk memainkan piano tersebut. Dan kenangan masa lalu kembali muncul ketika
Asya sedang memainkan piano dengan penuh keyakinan, saat ia mampu merasakan setiap nada dengan jelas. Kenangan tersebut membuat hatinya semakin terasa berat. Ia menundukkan kepalanya, berusaha untuk menahan ketakutan yang muncul. Di dalam dirinya, sebenarnya masih ada keinginan untuk kembali seperti dulu. Namun di sisi lain, ada rasa takut yang menghantuinya. Rasa takut karena tidak mampu, Takut akan gagal, dan takut dalam menghadapi kenyataan bahwa semuanya mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Ketika teman-temannya diminta untuk mencoba memainkan alat music di depan kelas, Asya tetap dia di tempat duduknya. Ia tidak berani untuk mengangkat tangan. Ia memilih untuk menghindar. Baginya, dunia musik yang dulu begitu dekat dengannya kini terasa seperti sesuatu yang sangat sulit untuk dijangkau. Setelah pelajaran berakhir, Asya segera keluar dari ruangan tanpa menoleh ke belakang. Langkahnya sangat cepat, seolah ingin menjauh dari semua kenangan itu. Namun, semakin ia berusaha menjauh, semakin ia menyadari satu hal yang tak bisa dihindari. Ia sebenarnya belum benar-benar melupakan semuanya. Ia hanya belum memiliki keberanian untuk menghadapinya. Di balik rasa takut yang ia rasakan, masih tersimpan harapan kecil yang perlahan menanti untuk ditemukan.
Pada suatu sore, Bunda kembali mengajak Asya pergi ke pusat terapi. Kali ini, Asya mengikuti tanpa banyak penolakan. Ia tidak memiliki harapan apapun, namun tetap melangkah masuk ke tempat itu. Suasana di dalam ruangan terasa berbeda dari biasanya. Asya mulai memperhatikan orang-orang disekitarnya dengan lebih teliti. Ia melihat berbagai orang dengan kondisi yang beragam, masing-masing berusaha menjalani proses pemulihan dengan caranya sendiri. Ada yang sedang belajar berjalan dengan perlahan, ada yang sedang berlatih berbicara dengan penuh kesabaran, dan ada juga yang menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Kondisi tempat tersebut membuat Asya terdiam.
Untuk pertama kalinya, Asya tidak hanya memandang keterbatasan, tetapi juga menyadari adanya usaha dan semangat yang dimiliki oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Di sudut ruangan, perhatiannya kembali tertuju pada seorang anak kecil yang sedang duduk di depan piano. Anak itu sedang memainkan tuts-tuts piano dengan penuh konsentrasi. Meskipun gerakannya tidak sempurna, ia tampak percaya diri dan mengekspresikan perasaannya melalui
piano tersebut. Asya melangkah dengan perlahan mendekati anak tersebut. Ia memperhatikan setiap gerakan dengan teliti. Wajah anak itu terlihat tenang, bahkan ia tersenyum, seakan benar benar menikmati apa yang sedang ia lakukan. Melihat anak tersebut, Asya merasa kagum sekaligus heran, bagaimana mungkin anak tersebut dapat memainkan piano tanpa mendengar suara yang dihasilkan?. Lalu ia menoleh ke arah pelatih yang berada di dekatnya, kemudian menuliskan pertanyaan di sebuah papan kecil. “Bagaimana dia bisa bermain?” pelatih itu membaca tulisan Asya, lalu tersenyum hangat sebelum menjawab, “Dia tidak mendengar, tetapi ia merasakan.” Asya terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban dari pelatih tersebut. Kalimat tersebut terdengar sederhana, namun memiliki makna yang begitu dalam.
Asya kembali memandang anak kecil itu. Perlahan, cara pandangnya mulai berubah. Ia tidak lagi melihatnya sebagai sebuah kekurangan, melainkan sebagai cara yang berbeda dalam menjalani sesuatu. Tanpa Asya sadari, muncul kesadaran baru dalam dirinya. Selama ini, Asya terlalu fokus pada apa yang telah hilang di kehidupannya. Ia terus memikirkan suara yang tidak lagi bisa ia dengar, tanpa menyadari bahwa masih ada cara lain untuk dapat merasakan. Lalu Asya bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah aku juga bisa melakukannya?. Pertanyaan itu belum memiliki jawaban yang pasti. Namun, pertanyaan tersebut menghadirkan sebuah harapan.
Disepanjang perjalanan pulang, Asya lebih banyak terdiam. Namun kali ini, diamnya bukan karena kesedihan, melainkan ia sedang memikirkan sesuatu tentang kemungkinan dia bisa, tentang kesempatan pada dirinya, dan tentang dirinya sendiri. Sesampainya dirumah, langkahnya terhenti di depan ruang tamu. Pandangannya tertuju pada piano yang selama ini ia hindari. Asya berdiri cukup lama sambil memandangi piano tersebut. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Asya mulai memberanikan diri untuk tidak menundukkan kepalanya. Ia menatap piano tersebut dengan perasaan yang berbeda, bukan perasaan yang takut. Melainkan perasaan yang berani untuk memulai tumbuh dalam dirinya.
Malam itu, setelah kembali dari pusat terapi, Asya tidak langsung masuk ke kamarnya, Langkahnya terhenti di ruang tamu, tepat di depan piano yang selama ini ia hindari. Ia berdiri cukup lama. Pandangannya tertuju pada tuts-tuts yang dulu begitu akrab dengannya. Perlahan, ia menarik nafas dengan dalam, lalu ia duduk di bangku piano. Tangannya diletakkan di atas tuts dengan sedikit gemetar, seolah belum sepenuhnya terbiasa untuk kembali menyentuhnya. Satu persatu tuts mulai ia tekan, meskipun masih ragu dan belum teratur, Pada setiap getaran yang ia rasakan seakan membuka kembali sesuatu yang telah lama hilang dalam dirinya.
Hari-hari berikutnya, Asya mulai meluangkan waktu untuk duduk di depan piano , meskipun hanya sebentar. Ia tidak lagi memaksakan dirinya untuk langsung bisa kembali seperti dahulu. Ia hanya mencoba mengenali kembali apa yang pernah ia cintai. Terkadang ia merasa frustasi karena tidak dapat memastikan apakah nada yang ia mainkan sudah tepat atau belum. Tidak jarang dia berhenti sejenak, lalu menatap kedua tangannya dengan penuh keraguan. Namun kali ini, ia tidak mudah menyerah. Setiap perasaan putus asa mendatang, selalu teringat pada anak kecil di pusat terapi yang tetap mampu memainkan piano meskipun anak tersebut tidak dapat mendengarkannya.
Dalam hati Asya, berkata “ Jika dia bisa, aku juga pasti bisa”. Perlahan, Latihan yang ia Jalani mulai menunjukkan hasil. Gerakan pada jari-jarinya menjadi lebih yakin. Asya mulai mengenal kembali pola dalam setiap ketukan tuts yang ia mainkan. Pada suatu malam, bundanya berdiri mendekati pintu sambil memperhatikan Asya yang sedang berlatih piano. Asya tidak dapat mendengar suatu pun suara dari piano yang ia mainkan. Namun bagi bundanya, setiap nada yang dihasilkan oleh Asya memiliki makna yang begitu dalam. Bunda mulai menyadari, bahwa apa yang sedang dilakukan Asya bukan sekedar berlatih, melainkan sebuah proses untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya.
Senyum haru tampak menghiasi wajah bundanya, sementara matanya perlahan dipenuhi oleh air mata. Tanpa ingin mengganggu, ia memilih untuk tetap terdiam sembari melihat Asya melanjutkan latihannya. Sejak kejadian pada malam itu, Asya mulai meluangkan waktunya, merangkai rasa, dan menata kembali mimpinya yang sempat terhenti. Asya mulai tersadar bahwa setiap keterbatasan yang ia miliki bukanlah penghalang untuk meraih mimpi, melainkan kesempatan untuk menemukan potensi dan kekuatan dalam diri sendiri.
Nadia Nur Sofiani - 25010684108