PELANGI DI UJUNG JARI
Langit sore itu seperti kanvas yang dicat berwarna-warni. Jingga, merah, dan ungu menggelinding di langit, seolah alam sedang menunjukkan karya terbaiknya sebelum malam datang. Di sebuah teras sederhana yang menghadap ke sawah yang mulai menguning, seorang perempuan muda bernama Kirana duduk bersila. Matanya yang jelas, sedikit sipit, tidak sedang melihat ke indahnya langit. Matanya malah terpejam, kedua telapak tangannya terbuka ke depan, merasakan angin sore yang lembut. Azalea kehilangan penglihatannya sejak usia tujuh tahun, karena demam tinggi yang tidak kunjung reda. Dunianya yang dulu cerah, kini hanya gelap. Namun, dalam kegelapan itu, ia telah belajar untuk membuat dunia baru. Dunia yang ia rasakan dengan ujung jari, dengan hidung, dengan telinga, dan dengan hatinya. “Lea, sudah sore, masuk sana. Nanti kedinginan. ”
Suara itu lembut, penuh kasih. Ibu, satu-satunya orang yang selama delapan belas tahun ini tak pernah lelah menjadi matanya. Kirana tersenyum, tangannya meraba kursi rotan di sampingnya. “Sebentar, Bu. Anginnya enak dan aromanya campur. Ada tanah basah dari sawah yang baru diairi, ada bunga melati dari rumah Pak RT, dan ada bau knalpot motor. Pasti Axel baru pulang,” kata Azalea dengan nada bercanda. Ibunya terkekeh kecil, lalu duduk di sampingnya. “Kamu ini, hidungmu seperti anjing pelacak. Ya, Axel benar baru lewat. Katanya dia mau ke rumah temannya. Kamu sendiri bagaimana? Sudah selesai merajut?” Azalea menggeleng. “Belum, Bu. Baru setengah. Benang biru lautnya habis. Besok Lea mau ke toko benang sama Bu RT saja, ya? Kiran hafal jalannya dari rumah Bu RT ke toko itu.” “Ibu saja yang belikan. ” “Tidak, Bu. Lea ingin jalan sendiri. Mumpung besok Sabtu, pasar tidak terlalu ramai. ”
Ibunya terdiam sejenak. Ada rasa bangga, tapi juga ada kekhawatiran yang selalu ada di hatinya. Membiarkan Azalea pergi sendiri ke toko yang jaraknya hampir satu kilometer itu bukanlah hal yang mudah baginya. Namun, ia tahu, putrinya telah tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Kirana hafal setiap belokan, setiap tekstur trotoar, setiap suara yang menjadi penanda jalannya.
“Baiklah, hati-hati. Jangan lupa bawa tongkat putihmu,” kata ibunya akhirnya. Azalea mengangguk. Tangannya meraih lengan ibunya. “Bu, nanti malam Lea mau bicara sesuatu. Penting. ” “Ada apa, Nak? ” “Nanti saja. Kita tunggu Ayah pulang. ”
Malam harinya, keluarga kecil itu berkumpul di ruang tengah. Rumah mereka sederhana, berdinding papan, berlantai semen yang dingin. Di sudut ruangan, ada satu lemari pajangan kecil yang berisi piala dan piagam. Itu adalah piala milik Kirana dari berbagai lomba bernyanyi dan membaca puisi tingkat kabupaten. Meski tidak bisa melihat, Azalea memiliki suara yang indah dan ingatan yang luar biasa. “Ayah, Bu, Lea sudah mendaftar di Sanggar Kreasi Difabel,” kata Azalea dengan suara tegas. Ayah yang baru saja menyesap teh, menghentikan gerakannya. “Sanggar apa itu, Nak? ” “Sanggar Kreasi Difabel. Di kota. Tempatnya untuk seniman-seniman dengan disabilitas, Ayah. Ada yang tunanetra seperti Lea, ada yang tunarungu, ada juga yang menggunakan kursi roda. Mereka belajar seni, Ayah. Melukis, mematung, merajut, bahkan membuat kerajinan dari barang bekas. Kiran sudah bicara dengan pemilik sanggar lewat telepon. Namanya Kak Dika. Dia juga pengguna kursi roda. Kak Dika bilang, Lea punya bakat. ”
“Kamu akan tinggal di kota? Siapa yang akan menjagamu? ” tanya Ayah, suaranya sedikit meninggi. Sebagai seorang petani, Ayah mungkin tidak mengerti banyak tentang dunia seni, tapi yang ia pahami adalah kekhawatiran seorang ayah pada anak perempuannya yang buta. “Tidak tinggal, Yah. Lea akan pulang-pergi. Ada teman, Mbak Ani, yang juga dari desa kita. Dia bekerja di kota dan bersedia mengantarkan Lea. Sanggar itu tidak memungut biaya. Mereka bahkan menyediakan bahan-bahan. ” “Untuk apa, Nak? Kamu bisa merajut di rumah. Kamu bisa menyanyi. Tidak perlu ke sanggar segala,” timpal Ibu. Bukan karena tidak mendukung, tapi ia takut anaknya akan kecewa. Dunia di luar sana belum tentu selembut rumah mereka. Azalea menarik napas panjang. Ia tahu, inilah saatnya untuk menjelaskan. Tangannya meraih rajutan setengah jadi yang selalu ada di sampingnya. Sebuah syal dengan motif yang rumit.
“Bu, Ayah, Lea ingin lebih dari sekadar merajut. Lea ingin karya Lea dilihat orang. Lea ingin menunjukkan bahwa meski mata ini gelap, Lea bisa menciptakan hal-hal yang indah. Di sanggar itu, Lea bisa belajar teknik baru. Kak Dika bilang, mereka akan mengadakan pameran di akhir tahun. Lea ingin ikut. ” “Pameran? ” Ayah mengerutkan kening. “Iya, Ayah. Pameran karya seni. Lea akan memamerkan rajutan Lea. Tapi Lea tidak hanya ingin memajang syal atau selendang. Lea ingin membuat sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang lain seperti Lea
merasakan dunia. ” Kata-kata itu menggantung di udara. Ayah dan Ibu saling berpandangan. Mereka melihat kesungguhan di wajah Azalea. Meski matanya tak bisa melihat, semangat di sana menyala seperti lilin yang tak pernah padam. Ayah menarik napas dalam. “Apakah kamu pasti, Nak? ” “Pasti, Ayah. ”
Tiga bulan telah berlalu. Setiap Sabtu dan Minggu, Azalea mengunjungi Sanggar Kreasi Difabel di kota. Di sana, ia belajar banyak hal. Kak Dika, pendiri sanggar, adalah seorang pematung yang berbakat dan mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh. Ia mengajarkan Azalea bukan hanya untuk merajut, tapi juga untuk “merasakan” tekstur. Azalea belajar membuat instalasi dari benang, mencampurkan berbagai jenis benang dengan tekstur kasar, halus, lembut, bahkan benang yang dihias manik-manik supaya memberikan sensasi khusus saat disentuh. Ia juga bertemu Zoya, seorang pelukis tuna rungu yang mengajarkan tentang komposisi warna melalui getaran dan perasaan. “Warna tidak hanya terlihat,” begitu tulis Zoya di papan tulis mereka. “Merah adalah api, biru adalah air, kuning adalah matahari. Rasakan.” Azalea mulai menyatukan semua pelajarannya. Di kamar kecilnya, ia duduk berjam-jam dengan jari-jarinya yang cekatan memainkan jarum rajut. Ibunya sering mengawasi dari balik pintu, terharu melihat putrinya yang sesekali tersenyum, sesekali mengerutkan dahi saat jarinya salah memahami pola yang ia cetak dalam huruf braille.
Ia tidak hanya belajar keterampilan. Di sanggar, Azalea belajar untuk tidak merasa menjadi beban. Ia belajar bahwa disabilitas bukanlah kekurangan, tetapi cara pandang yang berbeda untuk melihat dunia. Setiap kali ia mendengar cerita Kak Dika yang mengayuh kursi rodanya selama tiga kilometer menuju sanggar, atau Rina yang harus menghadapi ejekan karena bisu, semangat Kirana semakin menyalakan. Namun, perjalanan Azalea tidak selalu mudah. Ada hari-hari di mana ia merasa jengkel. Suatu malam, ia merajut dengan gerakan kasar, hampir merobek hasil kerjanya. Ibunya yang mendengar suara jarum jatuh berulang kali, masuk ke kamar. “Ada apa, Nak? ” “Azalea bodoh, Bu. Pola ini terlalu sulit. Lea ingin membuat pelangi dengan tekstur yang berbeda untuk setiap warnanya. Tapi jari Lea tidak bisa membedakan ketebalan benang merah dan jingga. Mereka terlalu mirip! ” suara Azalea bergetar menahan tangis. Ibu duduk di sampingnya, mengambil tangan Azalea yang dingin dan sedikit terluka karena tertusuk jarum. “Jangan paksa dirimu, Nak. Selesaikan besok saja. ” “Tidak, Bu. Waktunya mepet. Pameran tinggal tiga minggu lagi. Lea harus selesai. Kiran ingin semua orang tahu. Orang yang melihat dengan mata, dan orang
yang melihat dengan hati, mereka semua bisa merasakan keindahan yang Lea buat. ” Ibu hanya bisa mengusap punggung tangan putrinya. “Kamu hebat, Nak. Ibu bangga. ”
Hari pameran tiba. Lokasinya di sebuah galeri kecil di pusat kota. Azalea datang bersama Ayah dan Ibu. Ayah mengenakan kemeja tuanya yang paling rapi, sementara Ibu memakai kebaya dari tetangga. Mereka berdua merasa gugup, mungkin lebih gugup daripada Azalea sendiri. Karya Azalea ditempatkan di ruangan utama. Saat penutup kain diangkat, Ayah dan Ibu terpesona. Di depan mereka terdapat sebuah rajutan besar, selebar dua meter, yang membentuk lengkungan pelangi. Tapi bukan pelangi biasa. Setiap warna memiliki tekstur yang berbeda. Merah: terasa seperti beludru, lembut dan hangat, terinspirasi dari degup jantung yang ia rasakan saat mendengar suara ayahnya. Jingga: kasar, dari serat goni, menggambarkan semangat yang tak pernah padam. Kuning: halus seperti sutra, mewakili senyuman ibunya yang selalu ia rasakan lewat getaran suara.
Hijau: dingin dan lembut seperti lumut, mengingatkannya pada dedaunan yang ia usap setiap pagi di halaman rumah. Biru: memiliki tekstur seperti air, dengan butiran transparan yang terasa dingin di jari. Nila: lembut seperti kapas, dengan benang yang sedikit regang, merepresentasikan kelembutan hati dalam menerima takdir. Ungu: kasar dan tebal, menggambarkan kekuatan yang ia temukan di dalam dirinya sendiri. Di setiap lengkung pelangi, Kirana menempelkan huruf braille kecil yang jika diterjemahkan akan membentuk satu kalimat: “Cahaya tidak selalu untuk dilihat, kadang ia ada untuk dirasakan. ”
Pengunjung mulai datang. Mereka bukan hanya orang-orang dari komunitas penyandang disabilitas, tapi juga seniman, kritikus seni, dan masyarakat umum. Azalea berdiri di samping karyanya, dengan tongkat putih di tangan. Ia mendengar bisik-bisik, decak kagum, dan suara langkah kaki yang berhenti di depannya. Seorang perempuan tua mendekat. “Nak, bolehkah saya menyentuhnya? ” Azalea tersenyum. “Silahkan, Bu. Karya ini memang dibuat untuk disentuh. ” Perempuan itu dengan lembut mengusap jari-jarinya yang keriput di sepanjang rajutan pelangi. Matanya berkaca-kaca. “Saya menderita katarak, Nak. Saya hampir tidak bisa melihat. Tapi dengan tangan ini, saya bisa merasakan pelangi Anda. Ini sangat indah. ” Azalea merasakan bulu kuduknya merinding. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyangka bahwa karyanya bisa menyentuh hati seseorang dengan cara yang demikian. Tidak lama kemudian, seorang jurnalis dari media lokal datang dan mewawancarainya. Azalea menjawab dengan tenang, suaranya yang merdu terdengar jelas di keramaian galeri. “Saya ingin mengubah pandangan orang tentang
disabilitas. Banyak yang mengasihani kami. Padahal, kami tidak butuh belas kasihan. Kami butuh kesempatan. Saya membuktikan bahwa dengan keterbatasan, saya bisa menciptakan sesuatu yang mungkin tidak bisa dibuat oleh orang dengan penglihatan normal,” kata Azalea. Kata-katanya mengundang tepuk tangan dari pengunjung yang mendengar. Di sudut galeri, Ayah dan Ibu menangis haru. Mereka melihat putri kecil mereka yang dulu sering menangis karena tidak bisa melihat, kini berdiri tegak, membawa harum nama keluarga mereka dengan karyanya.
Setahun kemudian, Sanggar Kreasi Difabel kini dikenal luas. Azalea menjadi salah satu instruktur di sana. Ia mengajar teknik merajut dan instalasi tekstur bagi teman-teman tunanetra. Di sebuah ruangan yang hangat, Azalea duduk bersama lima murid barunya. Di tangannya, ia memegang selembar kain dengan berbagai tekstur. "Ini namanya pelangi," kata Kirana sambil mengusapkan jari murid-muridnya di atas kain itu. "Ada yang bisa merasakan perbedaan tiap warnanya?"
Seorang anak laki-laki, Bima, yang buta sejak lahir, mengangguk semangat. "Yang ini lembut, Mbak. Pasti merah. Yang ini kasar, pasti ungu!" Azalea tertawa. "Pintar, Bima. Sekarang kita buat pelangi versi kalian masing-masing. Ingat, pelangi bukan hanya tentang warna. Pelangi adalah tentang harapan." Di luar ruangan, Kak Dika tersenyum melihat pemandangan itu. Ia ingat Kirana yang dulu pemalu dan penuh keraguan. Kini ia menjadi pelita bagi yang lain. Sepulang dari sanggar, Azalea duduk di beranda rumahnya. Langit jingga, sawah di depan rumah sudah dipanen. Ia merasakan angin membawa aroma tanah dan jerami. "Bu, hari ini Bima berhasil menyelesaikan rajutan pertamanya," kata Azalea sambil tersenyum. "Syukurlah, Nak," sahut Ibu dari dalam dapur.
Azalea meraih rajutan terbarunya. Bukan pelangi, tapi sebuah peta dunia dengan tekstur berbeda untuk setiap benua. Ia ingin suatu hari nanti, anak-anak tunanetra bisa belajar geografi dengan meraba. Ia ingin mereka tahu bahwa dunia ini luas, dan mereka juga punya tempat di dalamnya. Matahari tenggelam meninggalkan sisa cahaya yang tak lagi ia lihat. Tapi di dalam hatinya, Azalea melihat ribuan warna. Warna dari setiap semangat yang ia temui. Warna dari setiap mimpi yang ia rajut. Di kegelapan yang ia huni, Azalea menemukan sesuatu yang lebih terang dari cahaya matahari bahwa keterbatasan bukanlah tembok yang mengurung, melainkan jendela yang membuka cara pandang baru. Bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan keindahan. Azalea menutup matanya yang tak lagi melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak pernah buta. Karena ia telah melihat hal-hal yang tak bisa dilihat mata biasa seperti ketulusan, kekuatan, dan cinta.
by: Sahda Azmi Sabilah - 25010684051