Separuh Langkah untuk Sebuah Kesadaran
Namanya Pak Supri, tetapi di lingkungan kami ia lebih dikenal sebagai orang yang selalu mabuk. Hampir setiap malam, suara botol beradu dan langkah sempoyongan menjadi gangguan yang tak pernah absen. Terkadang ia berteriak, tertawa sendiri, bahkan mengetuk pintu rumah orang tanpa alasan. Namun, kegelisahan warga bukan hanya karena kebiasaannya mabuk. Belakangan, kami mulai mengetahui bahwa Pak Supri juga terlibat dalam perjudian. Beberapa kali terlihat ia pulang larut malam dengan wajah tegang, kadang membawa uang, tetapi lebih sering pulang dengan amarah. Tak jarang, suara bentakan terdengar dari dalam rumahnya sendiri. Situasi semakin memburuk ketika beberapa orang asing mulai datang ke lingkungan kami, mereka adalah rentenir yang menagih hutang. Mereka kerap berdiri di depan rumah Pak Supri dengan nada bicara yang keras, bahkan sesekali mengetuk pintu rumah tetangga, termasuk rumahku, sambil bertanya, “Pak Supri di mana? Sudah lama tidak bayar.” Kehadiran mereka membuat suasana semakin tidak nyaman.
Aku termasuk yang paling terganggu. Bagiku, lingkungan rumah adalah tempat untuk beristirahat setelah lelah seharian, bukan tempat yang dipenuhi kegaduhan. Bukan hanya suara ribut di malam hari, tetapi juga tekanan dari orang-orang luar yang tiba-tiba datang menagih hutang membuat semuanya terasa tidak aman. Bahkan pernah suatu sore, salah satu rentenir menatapku cukup lama ketika aku menolak memberi tahu keberadaan Pak Supri. Tatapannya dingin dan penuh tekanan, seolah aku ikut bertanggung jawab atas utang itu. Sejak saat itu, rasa kesalku pada Pak Supri semakin bertambah. Bagiku, ia bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga membawa masalah bagi orang-orang di sekitarnya.
Suatu malam di pos ronda, ketika suara Pak Supri kembali terdengar dari kejauhan, diselingi teriakan yang tak jelas dan bunyi benda jatuh dari dalam rumahnya, aku berkata dengan nada kesal, “Sudah keterlaluan. Kalau begini terus, kita harus ambil tindakan.” Beberapa warga langsung mengangguk setuju. “Iya, lama-lama bisa merusak lingkungan ini,” sahut salah satu dari mereka.
Yang lain menambahkan, “Bukan cuma mabuk, utangnya juga ke mana-mana. Tiap minggu ada saja yang datang menagih.”
Percakapan malam itu terasa lebih panas dari biasanya. Usulan untuk mengusirnya pun kembali muncul, kali ini dengan alasan yang lebih kuat. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat hampir semua orang sepakat. Aku merasa kami berhak atas ketenangan, tanpa gangguan, tanpa rasa takut, dan tanpa harus ikut menanggung akibat dari pilihan hidup orang lain.
Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Pak Supri tetap dengan kebiasaannya, dan kami tetap dengan keluhan kami. Tidak ada yang benar-benar mencoba mendekatinya, apalagi memahami hidupnya. Kami hanya melihat dari luar, menilai, lalu menjauh. Sampai suatu malam, hujan turun sangat deras, angin berhembus kencang, dan jalanan menjadi licin. Di tengah malam yang riuh oleh hujan, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah jalan utama. “BRAK!” Suara itu begitu jelas hingga membuat kami semua terkejut. Tanpa aba-aba, warga berhamburan keluar, termasuk aku.
Di bawah lampu jalan yang remang-remang, kulihat motor tergeletak dengan posisi yang tidak wajar. Beberapa meter dari sana, seseorang terkapar di aspal yang basah. Saat aku mendekat, dadaku seakan berhenti sejenak, itu Pak Supri. Tubuhnya bersimbah darah, napasnya tersengal, dan wajahnya penuh luka. Bau alkohol masih sangat kuat, bercampur dengan bau hujan dan aspal basah. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi hanya suara lemah yang keluar dari mulutnya.
“Tolong…” suaranya hampir tak terdengar.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa terganggu oleh keberadaannya.
Sejak kecelakaan itu, semuanya berubah. Pak Supri dilarikan ke rumah sakit, dan kabarnya cepat menyebar. Kaki kanannya mengalami luka parah hingga harus diamputasi sampai lutut. Ketika aku mendengar kabar itu, ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan. Bukan sekadar kaget, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam, mungkin rasa bersalah yang perlahan muncul. Lingkungan kami menjadi lebih sunyi. Tidak ada lagi suara gaduh di malam hari. Rumah Pak Supri yang dulu terasa mengganggu kini justru terasa kosong. Beberapa warga mulai menunjukkan kepedulian, bergantian menjenguk atau mengirim makanan. Aku masih ragu untuk mendekat. Setiap kali melewati rumahnya, langkahku lambat, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti.
Hingga suatu sore, pintu rumahnya terlihat terbuka. Tanpa banyak berpikir, aku memberanikan diri masuk. Pak Supri duduk di kursi roda, menatap kosong ke arah luar. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus, dan wajahnya kehilangan ekspresi yang dulu sering kulihat. Ia menoleh saat menyadari kehadiranku.
“Masuk saja,” katanya pelan. Aku duduk di kursi di depannya, merasakan suasana yang canggung. Tidak ada suara selain detak jam dinding.
Setelah beberapa saat, ia berbicara, “Dulu… aku sering bikin masalah ya?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi terasa berat. Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, “Iya.” Ia mengangguk pelan, seolah menerima kenyataan yang sudah ia ketahui. “Sekarang aku bahkan tidak bisa berdiri sendiri,” katanya dengan suara lirih. Aku menatap kakinya yang kini hanya tersisa satu, dan untuk pertama kalinya, aku merasa semua keluhanku di masa lalu tidak sebanding dengan apa yang ia alami.
Sejak pertemuan itu, aku mulai sering datang. Awalnya hanya untuk memastikan keadaannya, tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang tanpa kusadari aku nantikan. Kami mulai berbicara lebih banyak. Dari situlah aku mengetahui bahwa Pak Supri tidak selalu seperti ini. Ia pernah memiliki kehidupan yang lebih baik,
pekerjaan yang stabil, keluarga yang utuh, dan harapan sederhana untuk hidup tenang. Namun hidup tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ia kehilangan orang-orang yang ia sayangi satu per satu, hingga akhirnya ia merasa sendirian. “Awalnya cuma untuk lupa,” katanya suatu hari sambil menatap kosong, “tapi lama-lama aku lupa cara berhenti.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang bisa kulakukan hanya mendengarkan, menyadari bahwa dibalik sikapnya yang dulu kami benci, ada luka yang tidak pernah kami lihat.
Beberapa minggu kemudian, seorang ustaz mulai rutin datang menjenguknya. Aku beberapa kali melihat mereka berbincang cukup lama. Suara mereka pelan, kadang diselingi jeda panjang, seolah ada hal-hal yang sedang dipikirkan dalam-dalam. Perlahan, perubahan mulai terlihat. Botol-botol yang dulu berserakan di sudut rumah kini menghilang. Udara di dalam rumahnya terasa berbeda, lebih tenang, lebih ringan. Wajah Pak Supri juga mulai berubah. Matanya yang dulu kosong kini mulai menunjukkan kehidupan.
“Tidak mudah,” katanya padaku suatu sore.
“Setiap hari rasanya seperti melawan diri sendiri.”
Aku menatapnya, lalu bertanya, “Lalu kenapa tetap bertahan?” Ia tersenyum kecil, tetapi kali ini senyum itu terasa tulus. “Karena aku sudah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak mau kehilangan diriku sendiri juga.”
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ada hari-hari di mana ia terlihat lelah, bahkan hampir menyerah. Namun ia selalu mencoba kembali. Ia mulai belajar menggunakan kaki palsu, meski langkahnya masih kaku dan sering tidak seimbang. Suatu pagi, aku berdiri di sampingnya di halaman rumah saat ia mencoba berjalan. Ia melangkah perlahan, lalu hampir terjatuh. Aku refleks ingin menahannya, tetapi ia mengangkat tangan.
“Jangan,” katanya. “Aku harus bisa sendiri.”
Aku pun mundur, memperhatikannya dari jarak beberapa langkah. Ia mencoba lagi, dan lagi, meskipun setiap langkah terlihat berat. Dari situ aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tekad yang lahir dari kesadaran.
Warga yang dulu mengeluh kini mulai memberi dukungan. Sapaan yang dulu jarang terdengar kini menjadi hal yang biasa. Anak-anak bahkan tidak lagi takut, mereka sesekali menyapanya dengan polos. Lingkungan kami yang dulu dipenuhi penilaian perlahan berubah menjadi tempat yang lebih hangat. Aku sendiri menyadari bahwa perubahannya bukan hanya terjadi pada Pak Supri, tetapi juga pada diriku. Aku yang dulu mudah menghakimi, kini belajar untuk memahami. Aku yang dulu hanya melihat kesalahan, kini mulai melihat perjuangan.
Suatu sore yang tenang, kami duduk di teras rumahnya. Langit berwarna jingga, dan angin berhembus pelan membawa suasana yang damai.
Pak Supri memandang ke arah jalan, lalu berkata, “Terima kasih.” Aku menoleh. “Untuk apa?” Ia tersenyum kecil.
“Untuk tidak menyerah melihatku sebagai manusia.”
Kata-kata itu membuatku terdiam. Aku menarik nafas pelan sebelum menjawab, “Seharusnya aku yang minta maaf.” Ia menggeleng. “Mungkin semua ini memang harus terjadi… supaya aku sadar.”
Kami kembali diam, tetapi kali ini bukan karena canggung, melainkan karena masing-masing tenggelam dalam pemikiran.
Aku memandang langkahnya saat ia berdiri perlahan, satu kaki dan satu alat bantu. Langkahnya tidak lagi sempurna. Namun di setiap langkah itu, ada usaha, ada kesadaran, dan ada harapan. Separuh langkahnya mungkin terbatas, tetapi justru dari keterbatasan itulah ia menemukan sesuatu yang utuh, kedamaian yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Dan saat itu aku mengerti, kehilangan tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Kadang, kehilangan adalah cara hidup mengingatkan kita untuk kembali menemukan diri sendiri.
Sejak saat itu, setiap kali aku mendengar langkahnya di pagi hari, pelan, tertatih, tetapi pasti, aku tidak lagi merasa terganggu. Aku justru merasa diingatkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi, bahkan dari titik terendah sekalipun. Bahwa manusia bisa jatuh sejauh apapun, tetapi selama ia mau melangkah, meski hanya separuh langkah, selalu ada jalan untuk kembali.
Dan mungkin, itulah yang paling penting, bukan seberapa sempurna langkah kita, tetapi seberapa sadar kita dalam melangkah.
ANNISA NUR HIDAYATI - 25010684110