Sore Yang Tak Pernah Sama Lagi
Waktu kecil, Nara adalah anak yang paling berisik di rumah. Ibunya sering tertawa setiap kali Nara bercerita tanpa henti tentang sekolahnya,teman temannya bahkan hal yang tak penting sekalipun. Ayahnya kadang berpura-pura menutup telinga, tapi tetap tersenyum.
“Ini anak kalo diem malah aneh deh haha,” kata ayahnya suatu hari. Dan semua orang percaya itu. Sampai akhirnya, suatu pagi, Nara benar-benar diam.
Semua bermula dari sakit yang awalnya dianggap biasa. Demam, pusing, dan telinga yang terasa berdengung. Nara masih sempat bercanda di tengah kondisinya, masih sempat mengeluh karena tidak boleh jajan sembarangan. Tapi beberapa hari kemudian, sesuatu berubah dari suara yang mulai terdengar aneh,seperti jauh dan terhalang sesuatu.
Awalnya Nara pikir itu hanya telinga yang tersumbat sesuatu sampai ia bertanya kepada ibunya “Bu, kenapa suaranya kayak dari jauh?” tanyanya.
Ibunya tidak langsung menjawab, hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya. “Nanti juga hilang, Nak.”
Tapi ternyata tidak bahkan hari demi hari, suara semakin menjauh, yang dulunya jelas, sekarang samar,terus yang dulu dekat, sekarang terasa jauh dan sampai akhirnya… hampir hilang.
Hari pertama kembali ke sekolah menjadi hari yang paling membingungkan bagi Nara. Ia duduk di kelas seperti biasa, tapi semuanya terasa berbeda. Guru berbicara di depan, akan tetapi kata-
katanya tidak utuh. Teman-temannya tertawa, tapi Nara tidak tahu kenapa mereka tertawa sampai seseorang memanggil namanya, tapi ia baru sadar setelah dipanggil berkali-kali.
“Nara! Denger ga sih?” kata temannya. Nara mengangguk cepat,padahal sebenarnya Nara tidak mendengarkan saat ada yang memanggil dia.
Sejak hari itu, Nara mulai belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di buku,berpura-pura mengerti,ia mulai memperhatikan gerak bibir,menebak dari ekspresi,mengangguk di waktu yang tepat dan tertawa ketika orang lain tertawa. Meskipun ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, awalnya terasa seperti permainan tetapi, lama lama itu terasa melelahkan untuk Nara.
Di rumah, Nara mulai berubah, ia mulai tidak lagi banyak bicara, bukan karena tidak ingin tetapi karena takut salah,takut menjawab sesuatu yang tidak sesuai,dan takut terlihat aneh. Ibunya pun mulai menyadari perubahan Nara, sampai suatu malam ibu bertanya ke Nara.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibunya suatu malam.
Nara hanya menggeleng. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
Bulan demi bulan berlalu, dokter pun sudah didatangi, berbagai obat sudah dicoba, sampai suatu hari harapan sempat muncul, lalu perlahan… hilang.
“Pendengarannya kemungkinan tidak akan kembali seperti semula,” kata dokter suatu hari. Kalimat itu sederhana tapi mengubah segalanya.
Sejak saat itu, dunia Nara tidak pernah benar-benar sama. Suara tidak hilang sepenuhnya, tapi tidak pernah lagi utuh. Ia hidup di antara dua dunia yang terdengar, dan yang tidak.
Di sekolah, Nara mulai dikenal sebagai anak yang pendiam, bukan lagi yang paling cerewet atau yang paling ramai. Ia duduk di depan, berusaha menangkap sebanyak mungkin yang bisa ia pahami, tapi tetap saja ia sering tertinggal, saat diskusi kelompok jadi hal yang paling sulit karena percakapan terlalu cepat,terlalu banyak suara,terlalu sulit diikuti, dan akhirnya, ia lebih sering diam.
Istirahat adalah waktu yang paling ia tidak suka karena terlalu ramai dan membingungkan. Ia lebih sering duduk di kelas, membuka buku tanpa benar-benar membaca, sebenarnya bukan karena tidak ingin ikut, tapi karena ia tidak tahu harus masuk ke percakapan yang mana.
Sampai suatu hari, seorang anak baru datang ke kelas bernama Aruna duduk tidak jauh dari Nara tidak ada yang langsung berubah, sampai suatu hari, saat istirahat Aruna tiba-tiba duduk di sebelahnya Nara, lalu Aruna bertanya kepada Nara.
“Kamu Nara, ya?” katanya. Nara menoleh, berusaha membaca gerak bibirnya. “Iya.” kata Nara
Lalu Aruna diam mengangguk sambil tersenyum. Dan Aruna bertanya lagi kepada Nara “Kamu… ga terlalu denger, ya?” Kata Aruna
Nara sedikit terkejut. Ia tidak langsung menjawab, karena tidak banyak orang yang bisa menyadari secepat itu.
“Iya,” jawab Nara.
Aruna pun mengangguk, tidak terlihat aneh ataupun terlihat kasihan kepada Nara melainkan Aruna menerima seperti tidak ada apa-apa.
Sejak saat itu, Aruna sering duduk di dekat Nara, Ia berbicara lebih pelan, lebih jelas dan kadang menulis di kertas kalau Nara terlihat bingung, hal kecil tapi bagi Nara… sangat besar. Untuk pertama kalinya setelah lama,Nara tidak harus berpura-pura.
Sore hari, Nara punya kebiasaan baru yaitu duduk di teras rumah, awalnya hanya untuk menghabiskan waktu dengan melihat orang lewat, melihat anak-anak bermain meskipun tidak benar-benar mendengar. Sampai suatu hari, Aruna pun datang.
“Kamu tiap sore di sini?” tanyanya.
Nara mengangguk sambil tersenyum.
Lalu Aruna duduk di sampingnya ia tidak banyak bicara, hanya menemani, dan entah kenapa itu sudah sangat cukup bagi Nara.
Hari demi hari mulai terasa sedikit lebih ringan, walaupun tidak semuanya jadi mudah. Nara masih sering tertinggal, masih sering lelah, masih sering merasa berbeda. Tapi setidaknya sekarang… ia tidak sendirian melainkan ditemani oleh Aruna.
Sampai suatu hari, semuanya berubah lagi. Pagi itu, suasana kelas terasa aneh, lebih sepi, lebih tegang.
Wali kelas masuk dengan wajah serius. “Anak-anak… Ibu mau menyampaikan sesuatu.” Nara langsung fokus pada gerak bibirnya.
“Kemarin malam… Aruna mengalami kecelakaan.” Kata Wali kelas Nara. Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat, Ia tidak yakin apakah ia menangkap dengan benar. “Sekarang dia masih di rumah sakit.” Kata Wali kelas lagi.
Dunia terasa seperti berhenti.
Sepulang sekolah Nara langsung pergi ke rumah sakit, Ia tidak berpikir panjang, Ia hanya ingin memastikan bahwa Aruna baik-baik saja.
Di depan kamar, ia bertemu ibu Aruna dengan Wajahnya yang sembab, Nara pun langsung tahu, kalau ada sesuatu yang tidak baik.
“Aruna… gimana, Bu?” tanyanya pelan.
Ibunya menunduk.
“Dia selamat… tapi,” , kata ibunya sambil menangis
Lalu Nara pun menghela nafas lega, tapi belum selesai. Sampai situ ibunya Aruna pun melanjutkan omongannya.
“Pendengarannya… hilang.” Kata ibu Aruna sambil menangis tersedu sedu.
Kalimat itu tidak langsung dipahami oleh Nara, atau mungkin… ia tidak ingin memahaminya, Ia hanya berdiri diam,Kosong seperti ada sesuatu yang jatuh di dalam dirinya.
Beberapa minggu kemudian, Aruna kembali ke sekolah, tapi ia tidak lagi sama, melainkan lebih diam dari sebelumnya,lebih sering melihat sekeliling, lebih sering kebingungan sama persis seperti Nara dulu. Saat mereka akhirnya duduk berhadapan,tidak ada yang langsung bicara. Aruna hanya mengeluarkan buku kecilnya, lalu menulis sesuatu dan mendorongnya ke arah Nara.
"Sekarang aku ngerti kamu." Kata Aruna.
Nara membaca itu lama, dadanya mulai terasa sesak bukan karena senang, melainkan karena sedih. Karena ia tahu…betapa beratnya kalimat itu.
Hari-hari setelah itu berjalan berbeda, sekarang mereka berdua belajar bersama, bukan hanya pelajaran sekolah tapi juga…bagaimana caranya bertahan.
Sore itu, langit tidak terlalu cerah, tapi juga tidak sepenuhnya mendung. Angin berhembus pelan, membawa daun-daun kering jatuh satu per satu ke tanah. Nara duduk seperti biasa di kursi kayu di teras rumahnya. Tidak lama kemudian, Aruna datang dan duduk di sampingnya.
Beberapa menit berlalu tanpa kata, hanya dua orang yang sama-sama menatap jalan, melihat dunia yang ramai… dengan cara yang berbeda, dan akhirnya Aruna mengeluarkan buku kecilnya. Tangannya sedikit lebih pelan dari biasanya saat menulis, Ia menyodorkan kertas itu ke Nara.
"Na… kalau dunia tiba-tiba jadi sunyi, kamu pertama kali ngerasa apa?"
Nara membaca pelan, Ia tidak langsung menjawab, matanya masih menatap ke depan, seolah mencoba mengingat sesuatu yang lama ia kubur. Ia mengambil pulpen, menulis perlahan.
"Takut.", kata Nara
Aruna membaca, lalu menunggu Nara menulis lagi.
"Bukan takut sama sunyinya… tapi takut kalau aku ga bisa ikut hidup orang lain lagi.", lanjut Nara. Aruna menahan napas, tangannya sedikit gemetar saat mengambil pulpen. "Maksudnya?", kata Aruna.
Nara menarik napas dalam, kali ini ia tidak langsung menulis, Ia melihat orang-orang yang lewat di depan mereka ada anak kecil yang berlari, ibu-ibu yang berbicara, suara motor yang lewat (yang hanya bisa ditebak dari getaran dan gerak), Lalu ia menulis lagi.
"Semua orang ngobrol, ketawa, memanggil satu sama lain… tapi aku ga bener-bener ada di situ." Tulisan itu sedikit berantakan, seperti perasaan yang ikut keluar.
Aruna membaca pelan,matanya mulai berkaca-kaca.
"Terus… kamu gimana?", kata Aruna di tulisannya.
Nara tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya ringan.
"Awalnya aku maksa buat ngerti." Ia berhenti sebentar, lalu menulis lagi.
"Aku pura-pura ketawa, pura-pura paham, pura-pura biasa aja."
"Capek banget."
Aruna menutup mulutnya sebentar,seolah menahan sesuatu, ia menulis dengan cepat. "Kenapa ga bilang aja ke orang-orang?"
Nara membaca, lalu menggeleng pelan ia menulis lagi.
"Karena aku takut mereka berubah."
Aruna mengernyit, "Berubah gimana?"
Nara menatap ke depan lagi, lebih lama kali ini, seolah memilih kata yang tepat. "Takut mereka jadi kasihan." Kata Nara di kertasnya.
"Atau malah menjauh." ,Lanjutan tulisnya.
Angin sore berhembus lebih kencang, daun-daun kembali jatuh.
Aruna membaca tulisan itu dengan perlahan,air matanya jatuh tanpa ia sadari, ia cepat-cepat mengusapnya, tapi tidak sepenuhnya hilang dan tangannya kembali menulis.
"Na…”Ia berhenti, menarik nafas, lalu melanjutkan.
"Sekarang aku ngerasain itu semua."
Nara tidak langsung melihat,ia sudah tahu, ia mengangguk pelan, Aruna menulis lagi, lebih pelan. "Capek banget harus nebak-nebak."
"Capek harus liatin mulut orang terus."
"Capek pura-pura ngerti biar ga keliatan bodoh."
Tulisan terakhir sedikit lebih dalam tekanannya, seperti ada emosi yang tidak tertahan. Nara membaca semuanya, tidak ada ekspresi kaget, hanya mengerti lalu ia menulis satu kalimat. "Iya.", Sederhana tapi cukup.
Aruna menatap tulisan itu lama, lalu menulis lagi.
"Aku baru sadar… kamu selama ini sendirian ya."
Nara terdiam, kalimat itu terasa… lebih berat dari yang lain, ia tidak langsung menulis, tangannya berhenti di atas kertas cukup lama lalu akhirnya bergerak.
"Iya.", hanya itu, tapi cukup untuk membuat Aruna menunduk, air matanya jatuh lagi kali ini tidak ditahan, beberapa detik mereka diam hanya suara angin yang lewat, atau… setidaknya, yang bisa dirasakan. Aruna mengusap wajahnya, lalu menulis lagi dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Maaf ya."
Nara membaca, lalu langsung menggeleng, Ia menulis cepat.
"Jangan minta maaf."
Aruna menatapnya, Nara melanjutkan.
"Aku ga mau kamu ngerti karena kamu harus ngerasain juga."
Tulisan itu membuat Aruna semakin menunduk, bahunya sedikit bergetar, ia menulis lagi, pelan sekali.
"Tapi sekarang aku takut, Na." Kata Aruna.
Nara menunggu.
"Takut ga bisa balik kayak dulu."
"Takut ga bisa jadi aku yang dulu."
Kertas itu sedikit basah karena air mata, Nara membaca dengan hati-hati, lalu ia menarik nafas panjang, untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menulis, ia memandang Aruna cukup lama, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa kata, tapi akhirnya, ia tetap menulis.
"Aku juga dulu gitu." Kata Nara di bukunya.
Aruna mengangkat wajahnya. Nara melanjutkan.
"Aku nunggu… berharap… mungkin besok sembuh."
"Mungkin besok suara balik."
"Mungkin besok semuanya normal lagi." Tulisan itu semakin kecil di akhir, Seperti harapan yang ikut mengecil.
Aruna membaca dengan mata yang sudah merah.
"Terus?"
Nara menelan pelan,lalu menulis lagi.
"Ga balik." satu kalimat Nara yang pendek tapi terasa sangat panjang.
Aruna pun terdiam, benar-benar diam, seolah dunia berhenti.
Nara menambahkan satu kalimat lagi.
"Dan itu bagian paling sakitnya."
Air mata Aruna jatuh lagi,ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak ada suara tangis yang terdengar jelas, tapi getaran tubuhnya cukup.
Nara hanya duduk di sampingnya, tidak menyentuh, tidak banyak bergerak, hanya… ada, berapa saat kemudian, Aruna menurunkan tangannya, ia mengambil pulpen lagi, dengan sisa tenaga, ia menulis.
"Aku ga kuat kalau harus sendirian kayak kamu dulu." Tulisan itu sedikit miring, tidak stabil.
Nara membaca, lalu tanpa ragu, ia menulis.
"Kamu ga sendirian, Sekarang ada aku."
Tapi kali ini… bukan sunyi yang menyakitkan. Aruna menatap tulisan itu lama sangat lama, lalu perlahan, ia tersenyum. Di antara air mata yang masih tersisa.
Sore itu, tidak ada suara yang benar-benar mereka dengar, tidak ada percakapan panjang yang diucapkan, tidak ada tawa keras. tapi di antara tulisan-tulisan kecil itu,di antara jeda dan air mata, mereka akhirnya tidak hanya saling mengerti, mereka saling menemukan, dan untuk dua orang yang hidup di dunia yang setengah sunyi,itu lebih dari cukup.
Aindi Salwa Zaharani - 25010684158