Terang dari Luka
Sejak pagi menjelma, Pak Supar duduk di teras rumahnya sambil minum teh buatan istrinya. Matanya menatap pada motor tua milik anaknya yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Dari dapur terdengar suara anaknya, Mieko yang sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Ibunya bernama Hatsu yang merupakan keturunan Jepang. Mereka terlihat sangat akrab. Kadang, Pak Supar merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
“Sarapannya sudah matang, Pak. Ayo kita makan sama-sama!” kata Mieko sambil meletakkan nasi dan lauk di atas meja. Sedangkan Pak Supar hanya mengangguk. Matanya masih menatap sepeda motor itu. “Kapan kamu ganti motor, nduk?” tanya bapak secara tiba-tiba sambil berjalan menuju ke meja makan.
Mieko terdiam sejenak. “Nanti kalau ada rezeki lebih pak, Mieko juga sedikit demi sedikit masih ngumpulin tabungan buat beli motor.”
“Rezeki lebih? Katamu nabung, perasaan dari dulu juga nggak kelihatan hasilnya. Kamu itu kerja di kantor sudah tiga tahun, tapi masih naik motor tua itu. Lihat teman-temen seumuranmu, ada yang sudah punya mobil, rumahnya bagus. Terus kamu kapan, nduk?”
Mieko menunduk. “Iya pak, Mieko akan bekerja lebih keras lagi biar bisa wujudin keinginan bapak.”
“Setiap bapak tanya, mesti jawaban andalannya selalu itu. Kamu tahu nduk, bapak kerja keras banting tulang sekolahin kamu sampai tinggi, dan ini hasilnya? Usaha yang kamu lakukin itu engga menghasilkan apa-apa sampai sekarang. Bapak dan ibu kamu ini sudah mulai menua setiap harinya, bapak ingin kamu hidup lebih baik dari kami. Toh, kalau begini, siapa lagi yang bisa bapak harapin lagi nduk, selain kamu?”
Bu Hatsu yang baru keluar dari dapur langsung cemas melihat Mieko diam membisu dan Pak Supar terlihat tidak peduli. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa, karena terlalu sering melihat kejadian seperti ini. Setiap kali ada kesempatan, suaminya pasti membandingkan Mieko dengan anak-anak lain.
Bagi Bu Hatsu, Mieko adalah anak yang baik, pekerja keras, dan mandiri. Ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Gajinya memang tidak besar, tapi Mieko tidak pernah mengeluh. Setelah bekerja, ia membantu ibunya berjualan Gyoza dan tempura di depan rumahnya setiap sore. Tapi Pak Supar tidak pernah melihat itu semua, yang dilihat hanya apa yang belum Mieko raih, bukan apa yang sudah Mieko usahakan.
Beberapa bulan kemudian, Mieko memberi kabar ke Bapak soal keinginannya untuk menikah dengan seorang pemuda bernama Kamil. Ia bekerja sebagai guru honorer di sekolah dasar dekat rumahnya. Gajinya pas-pasan dan rumahnya sederhana. Tapi, Pak Supar menolak ketika pertama kali Mieko menceritakan pasangan yang dipilihnya.
“Guru honorer? Astaga nduk, kamu mau hidup susah seumur hidup? Ibu dan bapak dulu melarat, jangan sampai kamu juga mengikuti jejak kami. Masih banyak laki-laki mapan dan bisa penuhi kebutuhan kamu.” Dengan nada tinggi.
Mieko tidak menyerah. Hari demi hari, ia mencoba menyakinkan bapaknya. Ia selalu bercerita tentang Kamil yang baik hati, rajin mengaji, penyayang dan penyabar. Apalagi Kamil bisa memperlakukan Mieko dengan hormat tanpa pernah memaksakan sesuatu. Bu Hatsu juga ikut membantu. “Pak, yang penting hatinya baik dan sayang sama anak kita, Mieko juga sudah dewasa, dia tahu mana yang baik untuk dirinya.”
Setelah beberapa minggu berlalu, Mieko terus berusaha meyakinkan, Pak Supar akhirnya menyetujui pernikahan putrinya. Tapi ia memberi syarat. “Kamil harus bisa membuktikan kalau dia bisa menghidupi kamu dengan baik. Bapak nggak minta yang mewah, tapi seenggaknya kalian punya tempat tinggal yang jelas dan pekerjaan yang stabil. Kalau enggak, jangan harap bapak jadi wali nikah kamu.”
Mieko menerima syarat itu dengan senang hati. Ia percaya pada Kamil dan percaya pada jalan yang ia pilih. Kamil pun bekerja lebih keras lagi. Ia tetap mengajar di sekolah, tapi di luar jam mengajar, ia membuka les privat dan menjalani usaha jasa elektronik keliling. Meskipun tidak begitu besar usaha yang dibanggunya, tapi Kamil yakin akan sebuah permulaan kecil dalam merubah kehidupannya menjadi lebih baik untuk dirinya dan Mieko.
Sampai hari pernikahan pun tiba. Pelaminan sederhana didirikan di halaman rumah Mieko. Undangan hanya disebar ke keluarga dan tetangga terdekat. Mieko terlihat cantik mengenakan kebaya putih dengan cunduk mentul, hiasan kepala khas pengantin Jawa dengan untaian bunga melati. Prosesi akad nikah berjalan lancar. Pak Supar membacakan ijab kabul dengan suara lantang, Kamil pun menjawab dengan mantap, hingga bergemuruh suara sah dan diiringi tepuk tangan meriah.
Setelah akad, saatnya prosesi sungkeman. Mieko dan Kamil berlutut di hadapan Pak Supar dan Bu Hatsu. Mieko menunduk dan mencium lutut bapaknya. Air matanya mulai membasahi muka. Ini adalah momen yang paling Mieko tunggu-tunggu. Setelah sekian lama berusaha meyakinkan bapaknya agar bersedia menjadi wali dan meridhoi pernikahannya.
Namun saat Mieko mengangkat kepalanya. Tanpa sengaja, cunduk mentul yang ia kenakan mengenai mata kanan bapaknya. Pak Supar merasa kesakitan. Tangannya refleks menutup mata. Ia kaget, lalu kehilangan keseimbangan hingga mengenai kursi dan jatuh ke belakang. Kepalanya membentur lantai dan punggung bawah mengenai ujung meja yang tajam.
Suasana langsung berubah kacau. Para tamu berhamburan mendekat. Mieko dengan tubuh bergetar disertai wajah cemas. “Bapak! To-tolong bapak saya” teriaknya dengan suara takut. Kamil dengan sigap membantu mengangkat mertuanya. Beberapa tamu pria juga ikut menggotong Pak Supar ke mobil. Bu Hatsu berlari mengambil tas dan barang-barang penting. Sedangkan Mieko masih berdiri di tempatnya, tangannya bergetar, dan air matanya mengalir deras dalam keheningan. Kemudian, Bu Hatsu berusaha menahan tangis dan menenangkan Mieko yang masih syok sambil berjalan memasuki mobil untuk mengantarkan Pak Supar.
Tak berselang lama, Pak supar masuk IGD dan langsung ditangani oleh dokter. Dokter mengatakan kalau lukanya cukup dalam dan mengenai kornea. Fungsi penglihatan mata kanan nya sudah tidak berfungsi lagi. Tidak hanya itu, karena jatuh dengan posisi yang cukup parah, tulang ekor Pak Supar juga mengalami retak. Sehingga butuh waktu lama dalam pemulihan. Untuk sementara waktu juga, Pak Supar tidak bisa duduk terlalu lama dan harus menjalani terapi fisik.
Mieko yang duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dan masih mengenakan baju pernikahannya merasa lemas, tangannya memegang erat tangan Kamil yang duduk disampingnya, tatapan matanya kosong, dan kini hanya tersisa rasa bersalah yang besar.
“Ini semua salahku, aku yang buat bapak luka, aku sendiri yang bikin dunia bapak hancur, seharusnya aku bisa lebih hati-hati lagi, mungkin ini nggak akan terjadi. Kalau aku....”
Kamil mencoba menenangkan dan memeluk istrinya. “Mieko aku ada di sini bersamamu, jangan salahin diri kamu sendiri, sayang. Kita sama-sama doakan bapak ya supaya bapak nggak terjadi hal yang lebih parah.”
“Tapi bapakku buta sekarang, Mas. Bapakku juga lumpuh, karena siapa? Aku.”
“Dokter masih akan berusaha, tulang ekornya bisa pulih perlahan kata dokter, kita rawat bapak sama-sama ya.” Ucap Kamil sambil mengelus tangan Mieko.
Hari-hari berikutnya Mieko menjalani kehidupan dengan sabar. Ia mengambil cuti kerja dan setiap pagi bergantian dengan ibunya merawat bapak di rumah sakit. Kamil juga sepulang mengajar, langsung membantu menjaga bapak mertuanya, mengantarnya fisioterapi dan memijat kaki bapak mertuanya yang mulai kaku. Pak Supar awalnya sulit menerima keadaan ini. Tapi Mieko tidak pernah putus asa, ia tetap datang dengan lembut, berusaha membuat bapaknya nyaman dan bahagia berada di sisinya.
Suatu malam, saat Bu Hatsu pulang untuk mengambil baju ganti, Mieko duduk di samping tempat tidur bapaknya. Pak Supar terbaring dengan mata kanan tertutup perban. Mieko menggenggam tangan bapaknya dan mengusapnya perlahan. “Maafin anakmu ini ya, Pak. Selama ini Mieko sudah berusaha keras, wujudkan semua keinginan bapak dari lama. Tapi,
mungkin belum cukup buat bapak bangga, apalagi sekarang bapak jadi begini gara-gara Mieko.”
Dari balik perban, air mata menetes di pipi bapaknya. Pak Supar mendengar setiap kata yang diucapkan anaknya. Ia teringat semua ucapan yang dulu pernah keluar dari mulutnya. Kata- kata yang ia lontarkan dengan mudah, tanpa memikirkan perasaan anaknya. Hingga membuat dadanya terasa sakit.”
Pak Supar kini sadar. Selama ini, ia sibuk membandingkan Mieko dengan anak lain, sibuk menuntutnya menjadi sesuatu yang ia inginkan. Tak pernah sedikitpun melihat, Mieko berusaha dengan caranya sendiri. Mieko tak pernah meminta apapun dan ia yang dulu bapak anggap tak bisa membanggakan, justru berada di sini merawatnya bersama Kamil yang dulu
ditolaknya.
Tiga bulan kemudian, kondisi Pak Supar mulai pulih. Tulang ekornya menyambung meski ia masih menggunakan tongkat. Sementara mata kanannya buta, tapi mata kirinya masih bisa melihat dengan baik. Hingga suatu sore, ia duduk di teras rumah. Mieko yang baru pulang kerja langsung duduk disamping bapaknya. Pak supar menatapnya lama, kemudian ia bertanya dengan lembut kepada anak perempuannya “Kamu sudah makan Mieko?”
Mieko mengangkat wajah dan mengangguk. Ia merasa seperti ada sesuatu yang berbeda. Entah perasaan apa, tapi Meiko melihat kehangatan dan ketulusan dari bapaknya.
“Bapak minta maaf ya, nduk. Selama ini bapak sibuk membandingkan dan selalu merasa kalau kamu kurang. Padahal yang kurang itu cara bapak melihat usaha Mieko. Kamu juga tidak pernah menyusahkan nduk, justru bapak yang merepotkan kamu dan Kamil.”
Air mata Mieko menetes. Ia membungkuk dan mencium tangan ayahnya. “Bapak kenapa ngomong gini? Bapak itu nggak pernah nyusahin aku dan Mas Kamil. Aku seneng banget karena bapak masih ada disini bersama Mieko, bapak sehat, ceria dan masih bisa ngomel, itu udah anugerah terbesar dalam hidup Mieko. Yang terpenting sekarang kita fokus sama kesehatan bapak, pasti bapak bisa sembuh dan terus bahagia.”
“Bapak bahagia nduk, bapak sayang Meiko lebih dari apapun” Memeluk Mieko dengan tulus.
Dulu Pak Supar sibuk melihat kekurangan anaknya. Sampai ia lupa kalau anaknya baik, setia, dan tetap menyayanginya meski sering dibanding-bandingkan. Akhirnya, ia melihat bukan dengan mata kanan yang gelap. Tapi dengan mata hatinya yang selama ini diabaikan. Padahal, terang itu selalu ada, hanya saja ia belum siap untuk melihatnya.
Oleh: Intan Pratiwi - 2501068112